Menu

Otomatis
Breaking News

Pena Ekonomi

Atasi Kelangkaan Skill, Kolaborasi dengan LPKS Jadi Kunci Pemberdayaan Pekerja Lokal di PT HLNI

badge-check

Atasi Kelangkaan Skill, Kolaborasi dengan LPKS Jadi Kunci Pemberdayaan Pekerja Lokal di PT HLNI Perbesar

Luwu Timur, Penalutim.com –Gelombang penerimaan tenaga kerja di lingkup PT Huali Nickel Indonesia (HLNI) tengah menjadi sorotan utama di Kabupaten Luwu Timur. Memasuki April 2026, ratusan pencari kerja tercatat telah terserap masuk ke berbagai posisi strategis melalui skema kemitraan vendor.
Berdasarkan data yang dihimpun, sejumlah perusahaan vendor besar seperti PT TMU, PT IKM, PT BKL, PT SGM, GSS, MMM, LTG, hingga perusahaan bongkar muat kapal, telah membuka lowongan secara masif. Salah satu posisi yang paling banyak menyerap tenaga kerja saat ini adalah operator alat berat.

Tantangan di Tengah Masifnya Rekrutmen

Namun, di balik tingginya antusiasme tersebut, muncul kendala teknis yang cukup krusial di lapangan. Pihak vendor mengaku kesulitan mendapatkan tenaga kerja lokal yang memiliki kualifikasi spesifik untuk posisi-posisi teknis tingkat tinggi.

Beberapa posisi yang hingga kini sulit terisi oleh sumber daya manusia (SDM) lokal antara lain:

Operator Dragliner
Operator Forklift
Operator Crane
Mekanik Crane dan Sejumlah posisi teknis lainnya.

Kesenjangan antara kebutuhan industri dengan ketersediaan sertifikasi serta keahlian (skill set) pelamar lokal menjadi hambatan utama bagi vendor dalam memenuhi kuota tenaga kerja daerah.

Solusi Strategis: Kolaborasi dengan LPKS

Menanggapi fenomena ini, Risal Mujur, seorang tokoh pemerhati pemberdayaan tenaga kerja lokal Luwu Timur, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa kendala ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dapat menghambat penyerapan tenaga kerja lokal yang merupakan amanat regulasi.

Risal mengusulkan agar PT HLNI dan para vendornya segera menjalin kolaborasi erat dengan Lembaga Pelatihan Kerja Swasta (LPKS) yang tersebar di wilayah Luwu Timur.

“Solusinya adalah perusahaan harus membuka diri dan menjalin kolaborasi bersama LPKS untuk membuka pelatihan kerja yang kurikulumnya sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Ini adalah konsep pemberdayaan yang nyata,” ujar Risal.

Menurutnya, langkah ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan sebuah kewajiban perusahaan untuk melakukan pemberdayaan tenaga kerja lokal.

Dengan adanya pusat pelatihan yang sinkron dengan kebutuhan vendor, pelamar lokal yang sebelumnya tidak memiliki keahlian khusus bisa dididik hingga siap pakai.

“Ini adalah jawaban atas kendala yang dihadapi pelamar maupun perusahaan. Jika sinergi ini berjalan, maka masalah kelangkaan operator crane atau dragliner tidak akan ada lagi, dan putra daerah bisa berdaulat di tanah sendiri,” tutupnya.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat berharap pihak manajemen PT HLNI dan para vendor dapat segera merumuskan program pelatihan bersama guna memastikan roda ekonomi daerah bergerak seiring dengan pertumbuhan industri nikel di Luwu Timur. (*)

Facebook Comments Box

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Kreativitas Pengelola Perpustakaan Desa Wasuponda Berhasil Ciptakan Perputaran Ekonomi Kreatif

11 Sep 2026 - 12:03 WITA

Kreativitas Pengelola Perpustakaan Desa Wasuponda Berhasil Ciptakan Perputaran Ekonomi Kreatif

Di Desa Wanasari Angkona, Harga Jual Melon dan Semangka Rp 80 Juta

10 Sep 2026 - 13:27 WITA

Di Desa Wanasari Angkona, Harga Jual Melon dan Semangka Rp 80 Juta

Bapenda Lutim Genjot ETPD Lewat Rekonsiliasi Retribusi dan QRIS

3 Sep 2026 - 22:35 WITA

Bapenda Lutim Genjot ETPD Lewat Rekonsiliasi Retribusi dan QRIS
Trending di Daerah