Bunga-bunga tiruan yang tampak hidup tersebut merupakan buah kreativitas dari jemari Afni, sang pengelola perpustakaan. Keunikan dan kerapian estetikanya langsung memicu daya tarik ekonomi di mata para juri yang datang.
“Bagus sekali bunga ini. Kamu sendiri yang membuatnya, Dek?” tanya salah satu juri, terpikat oleh detail kerajinan tersebut. Afni tersenyum ramah dan mengangguk, “Iya, Bu.”
Interaksi profesional itu seketika berubah menjadi transaksi apresiatif ketika sang juri mulai menanyakan nilai ekonominya. “Apakah ini dijual? Berapa harganya?”
“Harganya beragam, Bu. Ada yang seharga 35 ribu rupiah, ada juga yang 70 ribu rupiah,” jawab Afni.
Bagi Afni, kerajinan tangan ini bukan sekadar pengisi waktu luang atau pemanis ruangan. Aktivitas ini adalah manifestasi nyata dari caranya menghidupkan Perpustakaan Harapan Bangsa. Melalui keterampilan yang ia asah, Afni berhasil menciptakan perputaran ekonomi mandiri demi menjaga napas literasi di desanya.
“Hasil dari penjualan bunga ini saya putar kembali. Uangnya digunakan untuk membeli bahan baku kerajinan baru dan membantu biaya operasional harian dalam mengelola perpustakaan ini,” ungkap Afni dengan nada optimis.
Fenomena inovatif di tingkat desa ini mendapat apresiasi khusus dari Aristu, Pustakawan Luwu Timur yang mendampingi tim juri selama proses penilaian. Menurut Aristu, apa yang dilakukan oleh Afni adalah contoh sempurna dari arah baru dunia perpustakaan modern.
“Produk kerajinan ini sudah sepenuhnya masuk dalam konsep Literasi Inklusi Sosial. Di sini kita melihat bahwa literasi tidak lagi berhenti pada aktivitas membaca, tetapi bertransformasi menjadi nilai ekonomi yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan institusi itu sendiri,” tegas Aristu.
Melalui sentuhan kreativitas Afni, Perpustakaan Harapan Bangsa Wasuponda membuktikan bahwa keterbatasan anggaran operasional desa bukanlah penghalang untuk terus berkembang. Dari balik meja pustakawan, sebuah gerakan literasi berbasis inklusi sosial kini tengah mekar, seindah bunga-bunga yang menghiasi ruang baca mereka. (Rm)










Komentar ditutup.