Makassar, Penalutim.com – Musim kemarau tahun ini terasa lebih panjang. Berdasarkan data Monitoring Hari Tanpa Hujan / HTH Dasarian II Agustus 2026, dari Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, sebanyak 75% wilayah Sulsel kini didominasi kondisi tanpa hujan berkategori panjang hingga kekeringan Ekstrim.
HTH sendiri dihitung dari jumlah hari berturut-turut tanpa hujan atau curah hujan di bawah 1 mm.
“Monitoring HTH Prov. Sulawesi Selatan didominasi kategori Panjang hingga Kekeringan Ekstrim, yaitu 21 hari sampai lebih dari 60 hari,” demikian keterangan resmi BMKG yang dirilis pada 20 Agustus 2026.
Titik paling parah ada di wilayah Pattene, Marusu, Kabupaten Maros. Daerah ini sudah 81 hari berturut-turut tidak diguyur hujan dan masuk kategori ekeringan Ekstrim.
Peta sebaran HTH juga menunjukkan warna merah dan coklat mendominasi wilayah pesisir barat dan selatan Sulsel, seperti Takalar, Jeneponto, Bantaeng, hingga Bulukumba.
Bagaimana dengan Luwu Timur?
Berdasarkan peta BMKG, sebagian besar wilayah di Luwu Timur dan Luwu Utara masih ditandai titik hijau dan hijau muda. Artinya masih ada hujan atau masa tanpa hujan masih sangat pendek, 1-5 hari.
Namun BMKG mengingatkan agar tidak lengah. Dalam keterangannya, curah hujan di Sulsel diprediksi masih berada di kategori rendah hingga akhir Agustus 2026. Kondisi ini jadi perhatian khusus bagi Pemkab Luwu Timur untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat tingginya angka kebakaran yang telah ditangani petugas Damkar Luwu Timur selama musim kemarau ini.
Dengan potensi kemarau yang masih panjang, warga diimbau hemat air, menjaga sumber air, dan waspada terhadap kebakaran hutan dan lahan. Apabila terjadi kebakaran, silahkan menghubungi layanan darurat 112.
Layanan Nomor Tunggal Panggilan Darurat (NTPD) 112 yang resmi diluncurkan pemkab Luwu Timur beberapa waktu yang lalu ini, sangat membantu dalam memudahkan masyarakat, untuk mengakses bantuan ketika kondisi darurat dan dapat diakses gratis tanpa pulsa bahkan ketika ponsel dalam keadaan terkunci.(*)










Komentar ditutup.