PAREPARE, PENALUTIM.COM – Upaya memperkuat kehidupan literasi dan kesusastraan di Kota Parepare kembali digelar melalui Festival Sastra Gelanggang Buku 2026. Kegiatan yang diinisiasi Yayasan Akademi Imajinasi Sampan ini memperoleh dukungan pendanaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Festival yang mengangkat tema “Bayang dan Ingatan dalam Tubuh Kota” tersebut dijadwalkan berlangsung pada 5 hingga 27 September 2026. Berbagai lokasi di Kota Parepare akan digunakan sebagai ruang kegiatan yang mempertemukan pelajar, mahasiswa, komunitas literasi, seniman, budayawan, hingga masyarakat umum.
Gelanggang Buku bukanlah kegiatan yang sepenuhnya baru. Program ini sebelumnya pernah dilaksanakan oleh pegiat komunitas di Parepare pada 2020. Namun, penyelenggaraan saat itu berlangsung dalam situasi pandemi Covid-19 yang membuat ruang interaksi dan pertemuan masyarakat sangat terbatas.
Ketua Panitia Gelanggang Buku 2026, Ronald Edy, menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini diarahkan dengan fokus yang lebih jelas pada penguatan ekosistem literasi dan kesusastraan.
Menurut Ronald, Gelanggang Buku sebelumnya lebih banyak mengambil bentuk kegiatan seni pertunjukan dengan cakupan tema yang relatif luas. Pada penyelenggaraan 2026, konsep tersebut kemudian dikembangkan untuk mempertemukan berbagai unsur yang memiliki peran dalam ekosistem literasi dan sastra.
“Jadi, saya berharap dengan adanya ruang ini, yang terlibat mampu menyadari perannya masing-masing dalam penciptaan ekosistem,” kata Ronald.
Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, Gelanggang Buku 2026 dirancang dengan konsep yang lebih terarah serta memiliki orientasi keberlanjutan. Tiga pendekatan utama menjadi bagian dari festival ini, yakni edukasi, kompetisi, dan seni pertunjukan.
Direktur Akademi Imajinasi Sampan, Ilham Mustamin, mengatakan festival tersebut dihadirkan sebagai ruang edukasi budaya yang dapat dinikmati dan diikuti oleh masyarakat dari berbagai kelompok usia.
“Gelanggang Buku kami inisiasi sebagai jalan untuk menumbuhkan kesadaran sekaligus apresiasi masyarakat terhadap sastra dan literasi,” ujar Ilham.
Ia menambahkan, kegiatan dalam festival disusun tidak hanya sebagai aktivitas literasi, tetapi juga sebagai ruang belajar yang menyenangkan. Peserta diharapkan dapat mengembangkan kreativitas, membangun semangat berkompetisi secara sehat, sekaligus memperoleh ruang yang terbuka dan inklusif.
Beragam Kompetisi untuk Pelajar dan Mahasiswa
Salah satu bagian Gelanggang Buku 2026 adalah rangkaian kompetisi sastra yang dirancang untuk menjangkau kelompok usia berbeda.
Pelajar SMA sederajat dan mahasiswa di wilayah Ajatappareng dapat mengikuti Lomba Cerita Buku Sastra melalui Reels Instagram. Dalam kompetisi ini, peserta ditantang menyampaikan gagasan literasi maupun ulasan karya sastra melalui medium audiovisual.
Sementara bagi siswa SD kelas 4 hingga 6, tersedia Lomba Mendongeng. Kegiatan ini diarahkan untuk melatih kemampuan bertutur sekaligus merangsang daya imajinasi anak melalui sastra.
Adapun pelajar SMP se-Kota Parepare dapat mengikuti Lomba Baca Puisi. Penilaian dalam kompetisi tersebut mencakup sejumlah aspek, seperti vokal, intonasi, ekspresi, serta kemampuan peserta dalam menghayati isi puisi yang dibawakan.
Membuka Ruang Belajar dan Diskusi
Selain kompetisi, unsur edukasi menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Gelanggang Buku tahun ini.
Panitia menyiapkan lokakarya penulisan yang mencakup puisi, esai, dan cerita pendek. Kegiatan tersebut berlangsung dalam delapan jam pelajaran yang dibagi menjadi dua pertemuan tatap muka. Pesertanya berasal dari kalangan pelajar SMA, mahasiswa, dan masyarakat umum.
Forum diskusi juga menjadi bagian dari agenda festival. Salah satunya adalah Diskusi Kelompok Terpumpun yang mempertemukan berbagai unsur dalam dunia literasi dan perbukuan, mulai dari praktisi sastra, penulis, penerbit, pengelola toko buku, akademisi, pustakawan, duta baca, hingga komunitas lokal.
Forum tersebut akan menjadi ruang untuk membicarakan persoalan yang dihadapi dunia literasi sekaligus mencari langkah yang dapat dilakukan bersama untuk memperkuat ekosistem literasi di Parepare.
Agenda edukasi kemudian dilengkapi dengan Dialog Publik yang mengangkat isu seputar sastra, literasi, dan kebudayaan. Kegiatan ini terbuka bagi pendidik, pelajar, serta masyarakat umum.
Akademisi dan penerjemah manuskrip Lontara Bugis akan turut hadir sebagai narasumber. Kehadiran mereka diharapkan dapat memperluas diskusi mengenai keterkaitan antara warisan tradisi lisan dan tulisan masa lalu dengan dinamika kehidupan masyarakat masa kini.
Sastra Bertemu Seni dan Perbukuan
Nuansa festival juga diperkuat melalui sejumlah pertunjukan seni. Pembacaan puisi, musikalisasi puisi, dan orasi budaya menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Gelanggang Buku 2026.
Tidak hanya pertunjukan, panitia turut menghadirkan Bazar Buku dengan melibatkan penerbit, toko buku, penulis lokal, serta komunitas baca.
Kehadiran bazar tersebut diharapkan dapat memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk memperoleh bahan bacaan sekaligus membuka ruang interaksi antara pembaca, penulis, penerbit, dan pelaku perbukuan di daerah.
Melibatkan Berbagai Komunitas
Pelaksanaan Gelanggang Buku 2026 turut mengedepankan kolaborasi lintas komunitas dan institusi. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Parepare menjadi salah satu pihak yang memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.
Sejumlah komunitas lokal juga terlibat sebagai mitra, di antaranya Komunitas Teras Baca dan Komunitas Nalar. Untuk kebutuhan teknis dan kreatif, panitia berkolaborasi dengan KamarPixel dan Kaosta.
Yayasan Akademi Imajinasi Sampan juga menggandeng Maogi, komunitas literasi yang bergerak dalam pengembangan platform pembelajaran digital. Kerja sama ini melahirkan sistem pendaftaran terintegrasi secara daring melalui satu pintu.
Dengan sistem tersebut, masyarakat, pegiat seni, maupun institusi pendidikan yang hendak terlibat dalam kegiatan dapat melakukan pendaftaran melalui laman resmi Gelanggang Buku.
Melalui kombinasi program edukasi, kompetisi, pertunjukan seni, bazar buku, dan forum diskusi, Gelanggang Buku 2026 diharapkan menjadi lebih dari sekadar agenda festival sastra. Kegiatan ini ditargetkan menjadi ruang bertemunya berbagai unsur masyarakat untuk belajar, bertukar gagasan, berkolaborasi, sekaligus bersama-sama membangun ekosistem literasi dan kesusastraan yang lebih kuat di Kota Parepare.
Reporter: Egha Anugrah (Manajer Program Sampan Institute)









Komentar ditutup.