Bone, 7 Agustus 2026, Penalutim.com – Perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi menuntut penyuluh pertanian untuk memiliki kemampuan manajerial yang adaptif dalam mendampingi petani. Menjawab tantangan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Manajerial Penyuluh Berbasis Risiko Cuaca di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Penerapan Model Risiko Cuaca Berbasis Stokastik untuk Peningkatan Kapasitas Manajerial Penyuluh dan Penguatan Produksi Pertanian di Kecamatan Barebbo Kabupaten Bone” yang merupakan kolaborasi dosen program studi Sains Aktuaria, Ika Reskiana Adriani, M.Si. dan Artificial Intelligence, Andri Dwi Utomo, S.Kom., M.T. Institut Teknologi Bacharuddin Jusuf Habibie (ITH) bersama dosen program studi Agribisnis Universitas Hasanuddin (Unhas), Siti Hardiyanti Syam, S.P., M.Si., dan melibatkan dua mahasiswa ITH Rahmat dan Galuh Anugrah Pratama. Melalui pelatihan ini, para penyuluh dibekali pemahaman mengenai pemanfaatan data cuaca, kondisi tanah, serta teknologi digital sebagai dasar dalam memberikan rekomendasi budidaya yang lebih tepat kepada petani.
Dalam sesi pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai pengaruh variabilitas cuaca terhadap produktivitas pertanian, pentingnya identifikasi risiko sejak awal musim tanam, serta penerapan pendekatan berbasis data dalam proses penyuluhan. Tim pengabdian menjelaskan bahwa penyuluh memiliki peran strategis sebagai penghubung antara perkembangan ilmu pengetahuan dengan praktik budidaya di tingkat petani. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas penyuluh menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan sektor pertanian menghadapi perubahan iklim.
Sebagai bagian dari pelatihan, peserta juga diperkenalkan dengan Agrorisk.id, sebuah aplikasi yang dikembangkan untuk membantu penyuluh dalam menganalisis kondisi lahan dan risiko cuaca secara lebih cepat. Aplikasi tersebut mengintegrasikan informasi cuaca real time, seperti curah hujan, suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, tekanan udara, dan parameter meteorologi lainnya berdasarkan lokasi pengguna.
Tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, para penyuluh juga mengikuti sesi praktik lapangan. Mereka mempelajari cara melakukan pengukuran kelembapan tanah dan pH tanah menggunakan perangkat teknologi tepat guna, kemudian mengintegrasikan hasil pengukuran tersebut ke dalam aplikasi Agrorisk.id. Selanjutnya, sistem secara otomatis menghasilkan informasi mengenai kondisi lahan, tingkat risiko, serta rekomendasi yang dapat dijadikan dasar dalam penyusunan strategi pendampingan petani.
Pelatihan berlangsung secara interaktif dengan diskusi yang membahas berbagai permasalahan yang selama ini dihadapi penyuluh, mulai dari ketidakpastian awal musim tanam, perubahan pola curah hujan, hingga penentuan waktu tanam yang sering kali bergantung pada pengalaman lapangan. Melalui pendekatan berbasis data, penyuluh memperoleh perspektif baru bahwa keputusan budidaya dapat didukung oleh analisis ilmiah yang lebih objektif.
Ketua tim pengabdian menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini bukan hanya memperkenalkan sebuah aplikasi, melainkan membangun kemampuan penyuluh dalam memanfaatkan informasi sebagai dasar pengambilan keputusan.
“Kami ingin memperkuat kapasitas penyuluh agar mampu menginterpretasikan data cuaca dan kondisi lahan menjadi rekomendasi yang mudah dipahami petani. Dengan demikian, penyuluhan tidak lagi hanya bertumpu pada pengalaman, tetapi juga didukung oleh analisis risiko yang berbasis data,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat selama pelatihan berlangsung. Para penyuluh aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta mencoba langsung berbagai fitur yang tersedia pada aplikasi. Respons positif tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital di bidang penyuluhan pertanian memiliki peluang besar untuk diterapkan apabila didukung oleh peningkatan kompetensi sumber daya manusia.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian berharap penyuluh di Kecamatan Barebbo dapat menjadi agen perubahan dalam penerapan pertanian berbasis data. Dengan meningkatnya kapasitas manajerial penyuluh, proses pendampingan kepada petani diharapkan menjadi lebih efektif, adaptif terhadap dinamika iklim, serta mampu mendukung peningkatan produktivitas dan keberlanjutan sektor pertanian.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026. Tim pengabdian menyampaikan terima kasih kepada DPPM Kemdiktisaintek, Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Barebbo, Pemerintah Kecamatan Barebbo, serta seluruh penyuluh pertanian yang telah berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan kegiatan.










Komentar ditutup.