LUWU TIMUR, PENALUTIM.COM – Turnamen sepak bola di tingkat desa dinilai memiliki peran penting dalam membuka jalan bagi lahirnya talenta-talenta muda di Kabupaten Luwu Timur.
Pemerintah Kabupaten Luwu Timur mendorong agar kompetisi lokal tidak berhenti sebagai hiburan masyarakat, tetapi menjadi bagian dari proses pembinaan atlet sejak usia muda.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disparmudora) Luwu Timur, Muhammad Safaat, saat mewakili Bupati Luwu Timur pada penutupan Turnamen Hari Kemerdekaan di Lapangan Birawa, Desa Balantang, Minggu (16/8/2026).
Menurut Safaat, kompetisi seperti yang digelar di Desa Balantang memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk mendapatkan pengalaman bertanding sekaligus menunjukkan kemampuan mereka.
“Turnamen sepak bola seperti ini merupakan salah satu bentuk nyata bagaimana kita mengisi kemerdekaan,” ujar Safaat saat menyampaikan sambutan Bupati.
Ia berharap dari kompetisi tersebut muncul pemain-pemain potensial yang dapat berkembang ke jenjang lebih tinggi.
Bukan hanya memperkuat klub lokal, talenta yang lahir dari kompetisi tingkat desa diharapkan mampu menembus level provinsi hingga nasional.
Safaat mengatakan pembinaan olahraga membutuhkan ruang kompetisi yang cukup. Karena itu, keberadaan turnamen di desa maupun kecamatan menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem olahraga yang sehat.
Menurutnya, pemain tidak cukup hanya mendapatkan latihan. Mereka juga membutuhkan pengalaman menghadapi pertandingan, lawan, tekanan dan atmosfer kompetisi.
Dari proses tersebut, kemampuan teknis sekaligus mental pemain dapat berkembang.
Pemkab Luwu Timur, kata Safaat, akan terus mendorong kegiatan olahraga dan kepemudaan di berbagai wilayah.
Langkah tersebut diarahkan untuk membangun generasi muda yang sehat, disiplin, produktif, berprestasi dan memiliki karakter.
Selain aspek prestasi, Safaat menilai turnamen sepak bola juga memiliki manfaat sosial bagi masyarakat.
Pertandingan mempertemukan pemain, keluarga, suporter dan masyarakat dari berbagai latar belakang dalam satu ruang kebersamaan.
“Turnamen ini bukan hanya menjadi ajang pertandingan sepak bola, tetapi telah menjadi ruang silaturahmi dan kebersamaan masyarakat,” katanya.
Ia mengingatkan agar persaingan di lapangan tidak berkembang menjadi konflik di luar pertandingan.
Menurutnya, hasil pertandingan harus diterima dengan sikap sportif.
“Menang jangan sombong, kalah jangan menyerah. Kalau terjadi perbedaan atau persaingan selama pertandingan, mari kita tinggalkan setelah peluit panjang berbunyi. Yang kita bawa pulang adalah persaudaraan,” tegasnya.
Safaat juga mengajak masyarakat menjadikan olahraga sebagai sarana memperkuat persatuan.
Ia mencontohkan sebuah tim sepak bola yang tidak akan mampu meraih hasil maksimal jika setiap pemain berjalan sendiri-sendiri.
“Luwu Timur tidak akan maju jika kita berjalan sendiri-sendiri. Kita harus bersatu, bergotong royong dan bergerak bersama untuk mewujudkan Luwu Timur Juara,” ujarnya.
Ia berharap semangat kebersamaan yang tumbuh melalui turnamen dapat terus dibawa dalam kehidupan bermasyarakat.
“Jadikan olahraga sebagai sarana membangun persatuan dan sepak bola sebagai sarana mempererat silaturahmi,” katanya.










Komentar ditutup.