LUWU TIMUR, PENALUTIM.COM – Lahan pertanian di Desa Wanasari, Kecamatan Angkona, Kabupaten Luwu Timur, perlahan mengalami perubahan pola tanam. Sejak 2021, sebagian warga mulai meninggalkan ketergantungan pada padi dan beralih mengembangkan semangka serta melon yang dinilai memberikan perputaran ekonomi lebih cepat.
Perubahan itu tidak hanya terlihat dari jenis tanaman yang dibudidayakan, tetapi juga dari pola usaha warga. Buah-buahan tersebut kini mulai menjadi komoditas unggulan yang menopang pendapatan petani sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi desa.
Kepala Desa Wanasari, Wayan Sardika, mengatakan perbandingan hasil panen menjadi salah satu alasan warga tertarik mengembangkan semangka dan melon.
Menurutnya, pada lahan sekitar 75 are, satu kali panen padi rata-rata menghasilkan Rp20 juta hingga Rp30 juta. Sementara pada luasan yang sama, budidaya semangka atau melon dapat menghasilkan omzet sekitar Rp70 juta hingga Rp80 juta dengan masa tanam sekitar dua bulan.
“Kalau padi di lahan 75 are itu paling hasilnya Rp20 juta sampai Rp30 juta sekali panen. Beda kalau semangka atau melon, di luasan yang sama bisa tembus Rp70 juta sampai Rp80 juta, itu pun cuma butuh waktu dua bulan,” ujar Wayan.
Perubahan tersebut mulai berkembang setelah Desa Wanasari menjadi bagian dari program **Kampung Pangan Adhyaksa** yang diinisiasi Kejaksaan Negeri Luwu Timur pada 2021.
Pendampingan yang diberikan tidak hanya menyentuh aspek budidaya, tetapi juga membantu desa dalam membuka akses anggaran serta membenahi administrasi program. Kondisi itu kemudian mendorong semakin banyak warga mencoba mengembangkan komoditas hortikultura.
Salah satu petani yang mengikuti tren tersebut adalah Nilo Devi. Ia kini mengelola lahan seluas 25 are dengan sekitar 2.300 pohon melon.
Nilo mengaku tertarik setelah melihat keberhasilan petani lain di Wanasari. Dari lahan tersebut, ia menyebut potensi pendapatan kotor dalam satu siklus panen sekitar 60 hari dapat mencapai Rp50 juta.
“Sekali panen, dengan siklus tanam sekitar 60 hari, penghasilan kotor dari lahan 25 are itu bisa sampai Rp50 juta,” katanya.
Namun, tingginya potensi pendapatan tidak serta-merta membuat budidaya melon dan semangka tanpa tantangan.
Petani masih harus menghadapi berbagai risiko produksi, mulai dari serangan tikus, lalat buah hingga penyakit jamur. Pengendalian hama dan penyakit menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan panen.
Meski demikian, warga tetap melihat komoditas buah memiliki peluang ekonomi yang lebih besar. Dengan pengelolaan yang tepat, hasil bersih dari budidaya semangka dan melon dinilai dapat mencapai tiga hingga empat kali lipat dibandingkan tanaman padi.
Yang membuat perubahan di Wanasari semakin menarik adalah mulai terbentuknya ekosistem usaha di tingkat desa.
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) mengambil peran dalam menopang petani, mulai dari penyediaan bibit, pemberian modal tanpa bunga, hingga membeli langsung hasil panen warga.
Hasil produksi kemudian dipasarkan ke sejumlah daerah, termasuk Makassar. Buah dari Wanasari juga telah masuk dalam distribusi program Dapur MBG dan sempat menjangkau jaringan ritel Indomaret.
Dengan pola tersebut, budidaya melon dan semangka di Wanasari tidak lagi sekadar aktivitas bercocok tanam. Komoditas ini mulai berkembang menjadi bagian dari rantai ekonomi desa, dari penyediaan modal dan bibit hingga penyerapan serta distribusi hasil panen.
Bagi Wanasari, pergeseran itu menunjukkan bahwa lahan pertanian tidak hanya bergantung pada satu komoditas. Ketika produksi, pembiayaan dan pasar dapat terhubung, pilihan tanaman pun bisa berubah mengikuti peluang ekonomi yang tersedia.










Komentar ditutup.