LUWU TIMUR, PENALUTIM.COM – Lapangan sepak bola tingkat desa dinilai dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk menemukan dan mengembangkan talenta muda di Kabupaten Luwu Timur.
Hal itu terlihat dari penyelenggaraan turnamen sepak bola antar desa dan klub se-Kecamatan Wotu yang berlangsung dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Turnamen yang mempertemukan 16 tim tersebut resmi berakhir setelah partai final digelar di Lapangan Gaswo, Jumat (11/9/2026).
Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disparmudora) Kabupaten Luwu Timur, Muhammad Safaat DP, mengatakan kompetisi olahraga di tingkat kecamatan memiliki arti penting dalam membangun ekosistem pembinaan atlet dari bawah.
Menurutnya, pertandingan antardesa bukan hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga memberikan ruang bagi pemain muda untuk mendapatkan pengalaman bertanding sekaligus menunjukkan kemampuan mereka.
“Kompetisi seperti ini penting karena menjadi ruang bagi anak-anak muda untuk mengasah kemampuan, mendapatkan pengalaman bertanding dan menunjukkan potensi yang mereka miliki,” ujar Muhammad Safaat DP.
Ia menilai keberadaan kompetisi yang berlangsung secara rutin akan membantu proses identifikasi pemain berbakat di daerah. Dari kompetisi lokal tersebut, pemain-pemain yang memiliki kemampuan menonjol dapat diarahkan untuk mengikuti pembinaan pada level yang lebih tinggi.
Safaat juga menekankan pentingnya menjaga sportivitas dalam setiap kompetisi. Menurutnya, pembinaan atlet tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis di lapangan, tetapi juga pembentukan karakter dan sikap sportif.
Bawalipu Pertahankan Gelar
Pada laga final, Bawalipu kembali menunjukkan dominasinya dengan mempertahankan gelar juara setelah mengalahkan Lampenai melalui drama adu penalti.
Kedua tim bermain imbang 0-0 hingga waktu normal berakhir. Dalam adu penalti, Bawalipu menang dengan skor 5-4.
Hasil tersebut sekaligus mengantarkan Bawalipu menjadi juara secara back to back, setelah sebelumnya juga menjadi kampiun pada turnamen tahun lalu.
Selain menjadi ajang kompetisi, pertandingan final tersebut juga menjadi penutup rangkaian kegiatan olahraga yang melibatkan masyarakat dari berbagai desa di Kecamatan Wotu.
Safaat mengatakan capaian Bawalipu patut diapresiasi, namun hasil pertandingan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah turnamen.
“Yang paling penting bukan hanya siapa yang menjadi juara, tetapi bagaimana kompetisi ini mampu melahirkan semangat berolahraga dan membuka ruang pembinaan bagi generasi muda,” katanya.
Ia berharap turnamen serupa dapat terus digelar dengan pengelolaan yang semakin baik, sehingga kompetisi tingkat desa dan kecamatan dapat menjadi bagian dari jalur pembinaan olahraga Luwu Timur.
Daftar Penghargaan
Selain Bawalipu sebagai juara pertama dan Lampenai sebagai juara kedua, posisi juara III bersama ditempati Persal FC dan Dewata FC.
Sementara penghargaan individu diberikan kepada Dimas dari Lampenai sebagai Best Player.
Gelar Top Skor diraih Taddi dari Arolipu dengan koleksi empat gol.
Muhammad Safaat DP berharap para pemain yang tampil dalam turnamen tersebut tidak berhenti pada kompetisi lokal. Ia mendorong para pemain muda terus berlatih dan mengikuti berbagai ajang untuk meningkatkan kemampuan.
Dengan semakin banyaknya kompetisi berbasis desa dan kecamatan, Disparmudora berharap jalur pencarian dan pembinaan bibit atlet sepak bola di Luwu Timur dapat semakin terbuka.
Turnamen Wotu pun tidak hanya meninggalkan satu nama sebagai juara, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mendapatkan pengalaman kompetisi dan kesempatan menunjukkan potensi mereka di lapangan.










Komentar ditutup.