Menu

Mode Gelap
Jemput Bola! Petugas Antar Bantuan Lansia ke Rumah Nenek 84 Tahun di Angkona Tingkatkan Efektivitas GPM, Bupati Irwan Minta Jangkauan Diperluas ke Tingkat Desa Resmi Cair! 138 Lansia Towuti Terima Bantuan Rp3 Juta Kemenag Lutim Ganti Pimpinan, Bupati Irwan Harap Pelayanan Keagamaan Makin Baik Keren! Sabet 10 Medali, FORKI Luwu Timur Raih Peringkat 9 Besar di Kejuaraan Karate Internasional Dorong Transformasi Digital, Pemkab Luwu Belajar Sistem Absensi ASN di Luwu Timur

Pena Ekonomi

Danau Matano dan Kisah Kampung Singkong Menghidupkan Harapan

badge-check


					Danau Matano dan Kisah Kampung Singkong Menghidupkan Harapan Perbesar

Nuha, Penalutim.com – Di balik keindahan Danau Matano, tersimpan kisah tentang perjuangan dan perubahan dari Desa Nuha, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur. Desa yang indah ini juga tergolong terpencil karena akses menuju ke desa tersebut mengharuskan perjalanan menggunakan kapal raft, menjadikannya jauh dari pusat aktivitas ekonomi.

Danau Matano

Keterbatasan akses tersebut berdampak langsung pada ketersediaan bahan pangan. Dalam situasi tertentu, masyarakat hanya dapat mengandalkan apa yang tumbuh di sekitar mereka. Singkong menjadi salah satu penyelamat saat pasokan bahan pangan sedang melambat atau tidak mencukupi. Di samping itu singkong merupakan tanaman yang cukup mudah ditanam, tumbuh subur, dan tersedia hampir di setiap pekarangan warga di Desa Nuha.

Namun, dulu singkong hanya dipandang sebagai makanan sederhana, sekadar pengganjal lapar di masa sulit. Tidak ada nilai ekonomi yang melekat padanya, apalagi bayangan bahwa singkong bisa menjadi sumber penghasilan.

Perubahan mulai terjadi ketika PT Vale Indonesia Tbk hadir melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Fokusnya sederhana namun berdampak besar yaitu mengajak ibu-ibu rumah tangga melihat potensi singkong sebagai peluang usaha.

Langkah ini kemudian melahirkan UMKM Kampung Singkong, yang resmi dibentuk pada 20 Oktober 2025. Kelompok ini menjadi wadah bersama bagi masyarakat, khususnya perempuan, untuk mulai berproduksi dan belajar mengelola usaha secara kolektif.

Pendampingan yang diberikan tidak setengah-setengah. Dari sisi sarana dan prasarana, kelompok ini mendapatkan dukungan penuh dari PT Vale, mulai dari mesin potong singkong, showcase, freezer, tenda kerucut, serta berbagai peralatan dapur seperti wajan, kompor, dan tabung gas. Selain itu, bantuan kemasan sebanyak 300 pcs turut diberikan untuk mendukung pemasaran produk yang lebih profesional.

Dari sisi kapasitas, berbagai pelatihan juga dilakukan secara berkelanjutan. Mulai dari pelatihan pengolahan keripik singkong dan produk singkong beku (frozen), pelatihan administrasi dan pencatatan keuangan, hingga pelatihan budidaya tanaman singkong. Tidak hanya itu, masyarakat juga dibekali kemampuan menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) serta penguatan kelembagaan agar usaha dapat berjalan secara berkelanjutan.

Untuk memastikan usaha mereka memiliki dasar hukum yang kuat, kelompok ini juga difasilitasi dalam pengurusan legalitas, meliputi Nomor Induk Berusaha (NIB), PIRT, akta notaris, hingga NPWP kelompok.

Kini, fasilitas desa pun mulai bertransformasi menjadi ruang produksi UMKM. Meski masih dalam tahap awal, semangat untuk berkembang terlihat nyata. Hingga saat ini, kelompok telah melakukan tiga kali produksi.

Produksi pertama kelompok berhasil memproduksi 15 kilogram singkong dan menghasilkan 42 pouch keripik. Kemudian produksi kedua sebanyak 30 kilogram singkong dan menghasilkan 86 pouch keripik. Produksi ketiga 14 kilogram singkong dan menghasilkan 44 pouch keripik. Satu pouch keripik singkong memiliki berat bersih 120 gram dan dibanderol dengan harga Rp10 ribu.

Angka-angka tersebut mungkin terlihat sederhana, namun menjadi bukti nyata bahwa proses belajar dan tumbuh sedang berlangsung.

Lebih dari sekadar tambahan penghasilan, inisiatif ini mengubah cara pandang masyarakat. Mereka mulai menyadari bahwa potensi lokal yang selama ini dianggap biasa, justru bisa menjadi kekuatan ekonomi jika dikelola dengan baik.

Dari desa yang harus ditempuh dengan menyeberangi danau, lahirlah kisah tentang kemandirian, kreativitas, dan harapan. Singkong bukan lagi sekadar makanan darurat melainkan simbol perubahan menuju masa depan yang lebih cerah bagi masyarakat Desa Nuha.

“Selama PT Vale mendampingi kami sangat bersyukur, karena program tersebut membawa dampak positif bagi kami dan masyarakat sekitar. Kami juga sangat menikmati program ini karena memberikan kesempatan untuk belajar tentang singkong dan cara pengolahannya. PT Vale juga membantu ibu ibu mendapatkan pendapatan tambahan dan para petani singkong di sini tidak lagi kesulitan untuk memasarkannya,” ungkap Hasnari Firdaus, Sekretaris Kelompok Kampung Singkong. (*)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Tingkatkan Efektivitas GPM, Bupati Irwan Minta Jangkauan Diperluas ke Tingkat Desa

21 Juli 2026 - 11:26 WITA

Modern dan Ramah Lingkungan, Pelabuhan Balantang PT Vale Sabet Penghargaan ASRI 2026

17 Juli 2026 - 12:32 WITA

Lestarikan Budaya, Perkuat Ekonomi: PT Vale Pamerkan Produk Binaan di HUT Dekranas

11 Juli 2026 - 23:34 WITA

Trending di Daerah