Sorowako, Penalutim.com – Di tengah riuhnya deretan produk kerajinan dan kuliner modern, sebuah komoditas unik berhasil mencuri perhatian ribuan pengunjung di Lapangan Iniaku, Sorowako.
Buah Dengeng, buah endemik yang hanya tumbuh dan berbuah subur di tanah Luwu Timur, resmi didapuk menjadi Maskot Pekan Expo Koperasi dan UMKM 2026 Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.
Kehadiran buah bercita rasa khas ini bukan sekadar pemajang stan, melainkan simbol perlawanan terhadap kepunahan identitas lokal. Di balik statusnya sebagai maskot, tersimpan cerita tentang kekayaan biodiversitas Bumi Batara Guru yang kini tengah berjuang mendapatkan panggung di tingkat regional.
Diplomasi Identitas di Lapangan Iniaku
Pemilihan Dengeng sebagai wajah utama perhelatan akbar ini tidak terjadi begitu saja. Panitia penyelenggara sempat dihadapkan pada beberapa pilihan fauna dan flora ikonik yang menjadi karakteristik wilayah lingkar tambang dan danau purba ini.
“Awalnya, ada sejumlah (opsi) yang kita tawarkan untuk menjadi maskot di kegiatan ini. Seperti ikan Pangkilang, Buttini, dan lain-lain. Tapi yang akhirnya terpilih di tingkat provinsi adalah Buah Dengeng,” ujar Ketua Panitia Kegiatan, Senvri Oktavianus, saat ditemui Penalutim.com di sela-sela riuhnya pembukaan expo di Lapangan Iniaku, Sorowako, Selasa (6/10/2026).
Senvri menegaskan bahwa buah Dengeng bukan lagi sekadar hasil alam biasa, melainkan salah satu identitas khas lokal yang paling kuat melekat pada Bumi Batara Guru. Langkah menjadikannya maskot adalah strategi diplomasi budaya dan ekonomi untuk mengenalkan keunikan Luwu Timur kepada seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan yang hadir dalam expo tersebut.
Lebih dari Sekadar Buah:
Tantangan dan Potensi Ekonomi
Dipilihnya Dengeng di atas ikon populer lainnya seperti ikan purba Buttini atau Pangkilang—yang merupakan fauna endemik Danau Towuti dan Matano—menunjukkan ada nilai urgensi yang ingin disampaikan.
Dengeng, dengan pohonnya yang kokoh dan buahnya yang menantang, merepresentasikan ketahanan masyarakat Luwu Timur.
Bagi masyarakat lokal, Dengeng kerap dimanfaatkan sebagai bahan campuran masakan tradisional atau obat herbal.
Namun, di era modern ini, tantangan terbesar adalah bagaimana mengolah komoditas endemik ini agar memiliki nilai tambah (value-added) ekonomi tinggi bagi pelaku UMKM, sekaligus memastikan kelestarian pohonnya di alam liar.
Melalui momentum Pekan Expo Koperasi dan UMKM 2026 ini, pemerintah daerah dan pegiat komunitas berharap mata publik Sulawesi Selatan terbuka. Dengeng tidak boleh hanya berakhir sebagai simbol di spanduk atau maskot musiman. Ia diharapkan menjadi pemantik riset pangan, inovasi produk turunannya seperti sirup, selai, atau kosmetik, hingga menjadi daya tarik ekowisata yang baru.
Ketika tirai expo nantinya ditutup, tantangan sesungguhnya baru dimulai: memastikan bahwa buah Dengeng tetap lestari di tanah Luwu Timur, dan tidak sekadar menjadi cerita masa lalu di lembaran sejarah Bumi Batara Guru. (*)










Komentar ditutup.