Luwu Timur, Penalutim.com — Nama Kampung Pangan Adhyaksa di Desa Wanasari, Kecamatan Angkona, Kabupaten Luwu Timur sudah lama menjadi buah bibir. Namun bagi saya, desa ini sempat menjadi mitos yang sulit dijangkau.
Beberapa kali direncanakan, selalu saja gagal. Siapa sangka, takdir justru mengantarkan saya ke sana tanpa rencana pribadi, melainkan tugas sebagai juri lomba perpustakaan desa tingkat kabupaten.
Begitu tiba di Desa Wanasari, tim juri langsung disambut dengan hidangan melon dan semangka yang luar biasa manis.
Sambil menikmati buah segar itu, saya mewawancarai pengelola perpustakaan desa. Ada satu jawaban yang langsung membuat saya tertegun:
“Kami juga melaksanakan pelatihan bersama masyarakat tentang budidaya melon dan semangka.”
Seketika saya membatin, “Oh, ini dia literasi dengan pendekatan inklusi sosial yang nyata!”
Perpustakaan di sini bukan lagi sekadar tempat membaca buku, melainkan motor penggerak kesejahteraan warga.
Pertumbuhan Ekonomi 60 Hari yang Fantastis
Rasa penasaran saya terjawab lebih dalam saat berbincang dengan Kepala Desa Wanasari. Sebagai desa binaan Kejaksaan Negeri Luwu Timur, Wanasari mengalami lonjakan ekonomi yang sangat signifikan.
Menurut pak desa, jumlah petani melon dan semangka terus bertambah karena hasilnya yang menggiurkan. Hanya dalam siklus tanam 2 bulan (60 hari), petani mampu mengantongi Rp30 juta hingga Rp80 juta.
Terpikat dengan cerita itu, saya memboyong teman-teman dari KOMPLIT (Komunitas Pegiat Literasi) Luwu Timur berkolaborasi dengan pihak Kejari Lutim untuk turun langsung ke lapangan.
Kami ingin merasakan langsung esensi dari program literasi pemberdayaan ini.
Dari Kebun Melon Bisa Beli Mobil
Setibanya KOMPLIT di Wanasari bersama perwakilan Kejari Lutim, kami disambut hangat oleh pemdes dan para petani lokal. Di sinilah kami menyaksikan langsung bukti nyata dari keberhasilan program Kampung Pangan Adhyaksa, Kamis (24/9/2026).
“Awalnya, kami menanam buah melon ini di pekarangan kantor desa, saat tibah panen kami beranggapan bahwa ini sangat menjanjikan bagi masyarakat. Dari sinilah kami mulai mengedukasi dan mengajak masyarakat agar menanam buah melon dan semangka,” Ucap Kepala Desa Wanasari, Wayan Sardika.
Bukan sekadar cerita pengantar tidur, kami bertemu langsung dengan petani yang meraup puluhan juta rupiah dalam waktu singkat. Bahkan, yang paling menarik perhatian adalah kisah seorang pemuda setempat yang belum beristri, namun sudah mampu membeli mobil sendiri murni dari hasil budidaya melon dan semangka.
Sinergi antara literasi inklusi sosial dari perpustakaan desa,dukungan pemdes, serta pendampingan dari Kejari Luwu Timur terbukti sukses mengubah nasib warga. Wanasari kini bukan sekadar kampung pangan, melainkan simbol kesejahteraan baru di Bumi Batara Guru.
Penulis : Risal Mujur (Komunitas Pegiat Literasi (KOMPLIT) Luwu Timur*







Komentar ditutup.