Towuti, Penalutim.com – Insiden Pipa minyak PT Vale Indonesia bocor kini telah menjadi perhatian semua pihak. Pasalnya, dampak pipa minyak bocor tersebut memberi dampak lingkungan yang kini telah menjadi perbincangan publik. PT Vale yang dikenal sebagai perusahaan yang mengedepankan transparasi dalam menangani insiden tersebut melibatkan para pakar dan ahli melakukan penelitian terkait peristiwa tersebut. Salahsatunya, Prof. Dr. Ir. Siti Halimah Larekeng, SP, MP, Ketua Puslitbang Natural Heritage & Biodiversity, LPPM Universitas Hasanuddin.
“Sebagai akademisi yang meneliti biodiversitas selama puluhan tahun, saya memandang setiap insiden lingkungan bukan hanya sebagai peristiwa teknis, melainkan juga sebagai pengingat betapa rapuh sekaligus berharganya ekosistem yang menopang kehidupan kita. Kebocoran pipa minyak di kawasan Towuti, Luwu Timur, menjadi salah satu contoh nyata bagaimana aktivitas manusia harus senantiasa ditimbang terhadap keseimbangan alam,” Kata Prof Siti Halimah Larekeng dalam keterangan tertulisnya, Kamis (28/8/2025).
Prof Siti Halimah Larekeng mengapresiasi langkah cepat PT Vale menangani insiden Pipa minyak bocor tersebut yang melibatkan pakar dan ahli.
“Dalam kasus ini, langkah cepat PT Vale Indonesia bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Natural Heritage & Biodiversity Universitas Hasanuddin adalah hal yang patut diapresiasi. Tim kami segera diturunkan ke lokasi, membawa mandat bukan hanya untuk mengukur kerusakan, tetapi juga untuk memahami dinamika ekologis secara komprehensif,” Ucap Prof Siti Halimah Larekeng.
Menurutnya, pihaknya telah melakukan penelitian di Towuti sejak tahun 2019 yang menjadi data perbandingan kondisi flora, fauna sebelum insiden dan sesudah insiden Pipa minyak bocor PT Vale.
“Sejak 2019, kami telah melakukan long-term biodiversity monitoring di kawasan hutan Towuti—baik di area alami maupun konsesi tambang. Basis data ini menjadi kunci: memungkinkan kami membandingkan kondisi flora, fauna, dan bahkan mikroorganisme sebelum dan sesudah insiden. Dengan demikian, analisis dampak dapat dilakukan berbasis bukti, bukan sekadar persepsi,” Ungkapnya.
Prof Siti Halimah Larekeng bilang, Biodiversitas ibarat denyut nadi bagi ekosistem. Kehadiran spesies pionir yang tumbuh di lahan bekas tambang, hingga keberlangsungan flora endemik Sulawesi, memberi sinyal tentang tingkat resiliensi alam. Namun, setiap kontaminasi—sekecil apapun—berpotensi mengganggu rantai ekologis ini.
Oleh karena itu, lanjut Prof Siti Halimah, pihaknya akan melakukan survei awal dengan fokus pada beberapa indikator:
- Kondisi vegetasi (apakah terjadi stres fisiologis atau penurunan keanekaragaman).
- Keberadaan fauna kunci seperti burung endemik atau serangga penyerbuk.
- Kualitas air dan mikroba akuatik, mengingat ekosistem perairan Towuti merupakan penyangga kehidupan masyarakat setempat.
“Dari pengalaman sebelumnya, kami melihat bahwa langkah-langkah konservasi yang konsisten—seperti reklamasi lahan dan rehabilitasi hutan—mampu meningkatkan biodiversitas di area yang terdampak aktivitas manusia. Tumbuhnya tanaman endemik di area rehabilitasi Vale adalah salah satu bukti bahwa pemulihan ekologi bukan sekadar wacana, melainkan sesuatu yang bisa diukur,” Tutur Prof Prof Siti Halimah.
Ia menilai insiden Pipa Minyak Bocor di Towuti adalah tantangan dan peluang memperkuat komitmen pemerintah, masyarakat, dan industri harus berjalan seiring untuk memperkuat ketahanan ekosistem jangka panjang.
“Insiden di Towuti memang menjadi tantangan, namun juga peluang untuk memperkuat komitmen lintas pihak. Sains, pemerintah, masyarakat, dan industri harus berjalan seiring, memastikan pemulihan yang tidak hanya mengembalikan kondisi, tetapi juga memperkuat ketahanan ekosistem jangka panjang,” Terangnya.
Sebagai ilmuwan, “Saya meyakini bahwa edukasi publik adalah bagian dari solusi. Biodiversitas bukan istilah abstrak; ia adalah fondasi pangan, air bersih, dan udara yang kita hirup. Peristiwa di Towuti harus menjadi pelajaran bersama: bahwa menjaga alam berarti menjaga kehidupan kita sendiri,” Tegas Prof Siti Halimah Larekeng.






