by

Menelusur Peradaban Media Yang Paradoksal

 

Media merupakan konsekuensi logis dari penerapan praktis gerakan jurnalis. Ia hanyalah akibat dari konsep, konten, teori dan interpretasi terhadap jurnalis itu sendiri.jika orientasi, karakter, corak, visi, misi, tujuan, orientasi dan segala hal yang berkaitan dengan media sangat dipengaruhi oleh seperti apa dan bagaimana orientasi, karakter, corak, visi, misi, tujuan dan orientasi dari para pelaku media itu sendiri.

Pelaku media yang dimaksud disini adalah mulai dari pemilik media hingga aparatusnya. Jika pelaku media memiliki orientasi, karakter, corak, visi, misi, tujuan dan orientasi yang berlandaskan pemikiran materialis dan berideologikan materialisme, maka tentu media pun akan mengikuti aras para pelakunya. Sehingga wajar ketika muncul slogan bagi para pelaku media materialis bahwa perkara pewartaan pengetahuan baik berupa berita, opini, data dan informasi lainnya sangat tergantung “seberapa kecil yang kita keluarkan dan seberapa banyak yang kita dapatkan”. Sebuah slogan atau boleh dikata kredo media bagi para pelaku media yang bercorak materialistis.

Begitu pula sebaliknya, jika para pelaku media memiliki corak pemikiran dan ideologi yang tauhid, maka tentu corak media yang dijalankanpun pasti bersendikan nilai-nilai ketauhidan. Bahwa perkara penyampaian pengetahuan, baik pewartaan berita, dan opini atau penyampaian data dan informasi lain disemua genre disiplin ilmu pengetahuan tentu senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai ketauhidan. Kredo media bagi para pelakunya adalah “menyampaikan pengetahuan, baik melalui lisan, tulisan maupun perilaku sepenuhnya merupakan tuntunan intelektualitas dan spiritualitas, bukan tuntutan ekspektasi atau tendensi kebutuhan material”.

Bahwa para pelaku media membutuhkan materi untuk menunjang pelaksanaan dan kerja-kerja media, itu tidak bisa dipungkiri. Tetapi menjadikannya sebagai orientasi, tentu sangat absurd bagi manusia yang menjadikan pengetahuan atau ilmu sebagai sesuatu yang sangat mulia dan suci. Oleh karena pengetahuan atau ilmu sangat mulia dan suci, maka tentu ia tidak bisa disentuh dengan konsep, konten, corak, dan orientasi yang hanya mengedepankan akumulasi kapital.

Media dewasa ini hampir semuanya bercorak materialis. Ia hanyalah sebuah pabrik penyampaian pengetahuan (jurnalis) yang berisikan para buruh untuk merekayasa alam bawah sadar masyarakat awam. Produknya adalah suguhan tulisan, lisan dan perilaku para badut-badut publisitas.

Lihat dan saksikan saja konten, konteks dan konsep pemberitaan media massa dewasa ini mulai dari media cetak, eletronik hingga online, hampir semuanya bergenre pemburu rente akumulasi kapital. Ironisnya konten dan konteksnya tidak lagi memberikan wacana edukatif dan konstruktif bagi perbaikan intektual dan spiritualitas umat manusia. Katanya, media adalah wadah atau saluran informasi yang bersifat edukatif, tetapi faktanya term edukatif disulaf menjadi pembodohan dan pembohongan realitas.

Ironisnya, interpretasi edukatif atau tidaknya sangat tergantung pada pemilik modal yang mengendalikan media tersebut. Coba pikirkan dan renungkan, ketika media di dunia secara umum dan Indonesia secara khusus dikuasai para manusia jahil lagi materialis, maka tentu alam bawah sadar manusia yang setiap hari disesaki oleh wacana media juga akan berubah menjadi jahil dan materialis.

Bayangkan dan pikirkan saja ketika media dikuasai oleh orang-orang yang lisan, tulisan dan perilakunya hanyalah ekspresi publisitas diri yang hendak mengakumulasi kapital menjadi beranakpinak, maka tentu dunia dan Indonesia ini akan menjadi suaka wisata satwa.

Bayangkan dan pikirkanlah ketika media di dunia ini atau Indonesia secara khusus dikuasai oleh orang-orang yang hanya mengejar kepentingan politik untuk memperoleh, merebut dan menjatuhkan pemerintahan sebuah negara dengan cara-cara mengkanalisasi semua akses kesadaran masyakarat dalam sebuah rekaya media yang tidak sesuai dengan fakta kebutuhan dan kepentingan masyarakat, maka tentu dunia ini atau Indonesia kita yang tercinta akan menjadi dunia Hollywood atau republik sinetron dan film utofis seperti yang selama ini mereka suguhkan.

Pada tingkatan yang paling ekstrem, dengan media, manusia jahil bisa saja dipublikasikan seperti orang paling berilmu di alam semesta ini. Dengan media, pencuri bisa disulap menjadi korban pencurian, ustad bisa disulap menjadi selebritis, akademisi bisa disunat menjadi politikus busuk, mahasiswa bisa dirubah menjadi ekstrimis, masyarakat busung lapar bisa disulap menjadi masyarakat berpenyakit elite, pembunuh dan pembantai masyarakat bisa dipublikasinya seolah seperti ulama dan ustad, dan masih banyak lagi yang sanggup disulap dan disunatnya.

Dunia dewasa ini atau negara bangsa dengan segala aktivitasnya telah didesain dengan kaca mata media. Bahwa baik atau tidaknya, buruk atau tidaknya, etis atau non etisnya sebuah peradaban sangat dipengaruhi oleh publikasi media.

Media cetak seperti koran, majalah, tabloid, buku dan lain sebagainya mereka manfaatkan untuk menanamkan di alam bawah sadar masyarakat tenta apa yang mesti dan tidak mesti mereka lakukan. Begitu pula dengan medai eletronik seperti radio, televisi, Handpone dan lain sebagainya. Bahkan media online, mulai dari jejaring sosial, buku, majalah, koran website yag bergenre online juga menjadi penegas gerakan jurnalis melalui media.

Tapi jangan berpikir bahwa media penyampaian pengetahuan (data dan informasi) yang bisa merubah, menjelaskan dan mengaskan kesadaran manusia hanya media massa seperti yang disebutkan di atas. Tetapi semua sarana dan prasarana yang digunakan manusia dalam menyampaikan pengetahuan , itulah yang dimaksud media. Uang, pakaian, dan yang sejenis dengannya juga merupakan media yang sangat massif digunakan pra pendesain dunia ini untuk menghegemoni dan mendominasi kesadaran umat manusia, agar melakukan sesuatu sebagaimana alur, aras dan arus pandangan realitas dan ideologi yang diusung oleh para pendesain dunia melalui media tersebut.

Nah sekarang, pikirkanlah ketika media dikuasai oleh para mafia keagaamaan, poltik, hukum, pendidikan, budaya dan lain sebagainya. Menjadi apa peradaban umat manusia, silahkan interpretasikan sendiri.

Dari wacana di atas, dapat disimpulkan bahwa media adalah segala hal yang menjadi sarana dan prasana manusia dalam menyampaikan dan menyebarluaskan pengetahuannya. Pengetahuan yang dimaksud disini mulai dari pendangan realitas hingga ideologi, atau mulai dari aqidah hingga syariah.

Jika demikian definisi dan hakikat dari media itu sendiri, maka tentu media sangat memiliki peranan penting dalam pembentukan peradaban manusia. Dibawah kemana arah dan tujuan peradaban umat manusia, semuanya sangat tergantung pada media.

Saking pentingnya posisi, eksistensi dan peranan media, peradaban umat manusia masih eksis sampai hari ini juga karena media. Media adalah semangat zaman yang membentuk zaman itu sendiri. Ia tercipta melalui ikhtiar umat manusia untuk menyebarluaskan pengetahuan.

Sehingga eksistensinya senantiasa menjadi saksi penemuan umat manusia disegala bidang ilmu pengetahuan. Mulai dari penemuan dalam ilmu fisika hingga penemuan dalam teori dan praktis politik dan pemerintahan, semuanya sangat ditentukan oleh media. Bahkan perkembangan dan kemajuan teknologi itu sendiri bisa mengaktual sangat dipengaruhi oleh media. Dan dengan penemuan serta perkembangan teknologi, media kemudian mentasnformasikan bentuknya dalam dalam wajah dan bentuk yang lebih canggih.

Artinya, disatu sisi, media merupakan semangat manusia dalam menemukan dan mengembangkan teknologi dan disisi yang lain, media juga memanfaatkan teknologi untuk menyempurnakan bentuk dan wajahnya kearah yang lebih mapan, komplek dan canggih, sehingga jangkauan peran, fungsi, posisi dan eksistensinya semakin mapan dan sempurna.

Oleh karena itu, maka perlu kiranya kita kemudian berbenah diri, menata alur dan aras pemikiran dan aktivitas untuk lebih selektif dan kritis menilai dan berhadapan dengan media.

Dan disinilah pentingnya orang-orang berpengetahuan yang bercorak menunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan ketauhidan untuk mengambil alhi eksistensi, peran, posisi, fungsi hingga gerakan media.

Sekiranya media dikendalikan oleh orang-orang yang berilmu dan senantiasa menjadikan keilmuan dan spiritualitas sebagai denyut nadi dalam menjalankan aktivitas hidup dan kehidupannya, maka tentu peradaban umat manusia akan diarahkan pada kesempurnaan ketauhidan.

Pikirkan dan bayangkan saja ketika media dikendalikan oleh para politisi yang bermartabat dan senantiasa menerapkan teori politik ketauhidan dan menerapkan praktis politik sebagaimana yang pernah dilakukan para nabi, imam, dan orang-orang shaleh lainnya dalam pentas perpolitikan negara-bangsa bahkan dunia, maka tentu peradaban manusia akan diarahkan pada pengelolaan dan penataan sumber daya manusia dan sumber daya alam kearah yang mensejahterakan umat manusia, mulai dari hal yang bersifat jasmaniah hingga rohaniah, mulai dari kebutuhan perut, akal hingga hati, mulai dari hal yang bersifat intelektualitas hingga spiritualitas, mulai dari buang air kecil hingga buang air mani.

Pikirkan dan bayangkan saja ketika media dikendalikan oleh para ulama dan ustad (bukan ulama dan ustad komersil) yang senantiasa menjadikan ilmu atau pengetahuan sebagai cahaya yang menerangi peradaban dan sember mata air yang memberikan nyawa bagi hiup dan kehidupan manusia, maka tentu peradaban umat manusia akan diarahkan para penataan, pembimbingan, pengajaran, penyeruan, pengajakan dan pewartaan sumber daya manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan ketauhidan.

Bayangkan dan pikirkan saja atau saksikanlah ketika para akademisi, teoritisi, aktivis, praktisi, pengamat, pakar, para pimpinan partai politik dan lain sebagainya yang memiliki pemikiran dan spiritualitas yang senantiasa terjaga dari orientasi dan tujuan materialistis mengendalikan media, maka segala postur, kontur dan tekstur peradaban umat manusia akan diarahkan pada ritus, dan situs pengabdian dan pelayanan pada peradaban ilahiah.

Sebab mereka semua memahami dan mengerti kalau kehidupan manusia di dunia ini hanyalah penyiapan segala hal dalam bentuk pengabdian, pelayanan dan penyembahan kepada sang pemberi hidup dan kehidupan agar mampu menyongsong kehidupan abadi di akhirat kelak dengan tanpa kecacatan penciptaan dan penyembahan.

“Kemerdekaan adalah jiwa agama, Jiwa adalah kemerdekaan cinta, Agama adalah kemerdekaan jiwa dan Cinta adalah kemerdekaan dan jiwa agama”

 

Sumber : Jurnalis Indonesia

Comment

News Feed