by

Ketika Media Sosial Menjadi Alat Tempur Politik

Penalutim.com, Jakarta – Media adalah sarana atau alat. Alat yang digunakan untuk menyampaikan pengetahuan. Baik itu berbentuk tulisan, gambar, suara, video, dan lain sebagainya.

Media terdiri dari beberapa jenis, diantaranya, media cetak, sperti buku, koran, majalah, dan lain sebagainya. Kemudian media elektronik seperti Radio dan Televisi, (RCTI, TVONE, METRO TV dan lain-lain), Media online, Website, youtube. Media sosial seperti Facebook, IG, WA, twitter, line dan sejenisnya.

Media sejatinya berfungsi sebagai alat pendidikan, hiburan, dakwa, dan pengontrol jalannya suatu Negara dalam sistem demokrasi.

Pada era orde lama Soekarno, hingga orde baru Soeharto, dan pemerintahan sekarang, media telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari mekanisme penerapan kekuasaan rezim.

Media selalu digunakan sebagai alat politik. Dulu sebagai alat propaganda (dalam era Soekarno), kemudian sebagai bentuk kontrol (terutama pada masa Soeharto), dan dimasa Susilo Bambang Yudhoyono digunakan sebagai alat untuk membangun citra pemerintah.

Phadepie dalam (Risal Mujur, 2016 : 54) mengatakan Media massa telah menjadi medan pertarungan politik dan ada dua pandangan yang dapat disimpulkan.

Pertama, dari perspektf politisi, media merupakan medium untuk melegitimasikan kekuasaan politiknya.

Kedua, dari perspektif taipan media, politik merupakan arena yang dapat menguntungkan kerjaan bisnisnya.

Di satu titik ini, terdapat perkawinan antara kekuasaan politik dan kepemilikan media yang dapat menghilangkan independensi sehingga peran media dalam konsep demokrasi untuk mengendalikan kekuasaan akan berkurang atau bahkan menghilang).

Subiran dalam (Risal Mujur, 2016 : 117) mengatakan media dan kekuasaan ibarat sekeping uang logam. Antara yang satu dengan yang lainnya saling menjelaskan.

“siapa yang menguasai media, maka dialah pemilik kekuasaan” disatu sisi serta “siapa yang memiliki kekuasaan politik, maka lisan dan kebijakannyalah yang akan mempengaruhi konten pemberitaan media”

Jelang pilpres 2019, kita kembali disesaki dengan pertarungan media. Namun kali ini, berbeda dengan pilpres seblumnya (baca pilpres tahun 2014).

Pada pilpres 2014, kita menyaksikan pertarungam media Televisi. Sebut saja, pada saat itu, TV One VS Metro Tv. Pertarungan kedua Televisi tentu tidak lepas dari keberpihakannya dengan paslon yang di dukungnya.

Namun saat ini, jelang pilpres 2019, kita justru menyaksikan pertarungan para pendukung atau simpatisan kedua paslon tersebut, di media sosial. Bukan lagi Televisi.

Media sosial, sperti Facebook, Instagram, youtube, Twitter dan sejenisnya berubah menjadi alat tempur politik.

Cacian, makian, hujatan, fitnah bahkan agamapun di jadikan tameng dan alat tempur politik.

Ironisnya, yang menjadi korban adalah masyarakat. Sementara para elit politiknya “asik minum kopi” melakukan lobi-lobi politik, deal politik, untuk mengakomodir kepentingan politiknya.

Sedangkan masyarakat saling benci, bahkan akibat dari semua itu sebagian masyarkat persahabatan, kekeluargaannya menjadi pecah.

“jadilah pengguna media sosial yang menyebar atau menyampaikan pencerahan, yang menyebabkan kedamaian dan kesejahteraan”

 

Penulis : Risal

Foto : Tegas.co

Comment

News Feed