by

Realitas Pendidikan di Indonesia

Oleh : Imam Taofik, S.Pd.I. (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta Prodi Studi Islam Konsentrasi Pendidikan Islam)

Jakarta, Penalutim.co.id -Tujuan Pendidikan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Jika dikaitkan dengan seorang guru seni rupa Ahmad Budi Cahyanto yang dibunuh oleh muridnya sendiri berinisial HI di daerah sampag jawa timur, timbul pertanyaan apakah system pendidikannya yang salah ? atau ada faktor lain, sedagkan tujuan pendidikan di atas sudah sangat jelas kita garis bawahi kata berakhlak mulia ini perlu ada perenungan kita bersama apa sebenarnya yang menyebabkan murid bias berbuat keji seperti itu terhadap gurunya.

Jika kita lihat kurikulum di Indonesia sejarah singkat perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia sejak masa awal kemerdekaan:

Kurikulum 1947 atau disebut Rentjana Pelajaran 1947

Kurikulum pertama lahir pada masa kemerdekaan ini memakai istilah bahasa Belanda Leerplan artinya rencana pelajaran. Istilah ini lebih populer dibanding istilah curriculum (bahasa Inggris). Perubahan arah pendidikan lebih bersifat politis, dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Sedangkan asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Kurikulum ini sebutan Rentjana Pelajaran 1947, dan baru dilaksanakan pada 1950.

Karena masih dalam suasana perjuangan, pendidikan lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia merdeka, berdaulat, dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini. Fokus Rencana Pelajaran 1947 tidak menekankan pendidikan pikiran, melainkan hanya pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.

Kurikulum 1952, Rentjana Pelajaran Terurai 1952

Kurikulum ini merupakan penyempurnaan kurikulum sebelumnya, merinci setiap mata pelajaran sehingga dinamakan Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Paling menonjol sekaligus ciri dari Kurikulum 1952 ini, yaitu setiap pelajaran dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Silabus mata pelajaran menunjukkan secara jelas seorang guru mengajar satu mata pelajaran.

Kurikulum 1964, Rentjana Pendidikan 1964

Pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum pada 1964, namanya Rentjana Pendidikan 1964. Ciri-ciri kurikulum ini, pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD. Sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional atau artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmani.

Kurikulum 1968

Lahir pada masa Orde Baru, kurikulum ini bersifat politis dan menggantikan Rentjana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Kurikulum ini bertujuan membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni. Cirinya, muatan materi pelajaran bersifat teoretis, tidak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik sehat dan kuat.

Kurikulum 1975

Kurikulum 1975 menekankan pendidikan lebih efektif dan efisien. Menurut Mudjito, Direktur Pembinaan TK dan SD Departemen Pendidikan Nasional kala itu, kurikulum ini lahir karena pengaruh konsep di bidang manajemen MBO (management by objective). Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), dikenal dengan istilah satuan pelajaran, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan.

Kurikulum 1984

Kurikulum ini mengusung pendekatan proses keahlian. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).

Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999

Kurikulum 1994 merupakan hasil upaya memadukan kurikulum kurikulum sebelumnya, terutama Kurikulum 1975 dan 1984. Sayang, perpaduan antara tujuan dan proses belum berhasil. Sehingga banyak kritik berdatangan, disebabkan oleh beban belajar siswa dinilai terlalu berat, dari muatan nasional sampai muatan lokal. Misalnya bahasa daerah, kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Akhirnya, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat.

Kurikulum 2004, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)

Sebagai pengganti Kurikulum 1994 adalah Kurikulum 2004 disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok, yaitu pemilihan kompetensi sesuai, spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi, dan pengembangan pembelajaran. KBK memiliki ciri-ciri sebagai berikut, menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal, berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman. Kegiatan belajar menggunakan pendekatan dan metode bervariasi, sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.

Kurikulum 2006, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

Kurikulum ini pada dasarnya sama dengan Kurikulum 2004. Perbedaan menonjol terletak pada kewenangan dalam penyusunannya, yaitu mengacu pada jiwa dari desentralisasi sistem pendidikan. Pada Kurikulum 2006, pemerintah pusat menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Guru dituntut mampu mengembangkan sendiri silabus dan penilaian sesuai kondisi sekolah dan daerahnya. Hasil pengembangan dari semua mata pelajaran dihimpun menjadi sebuah perangkat dinamakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Kurikulum 2013

Kurikulum ini adalah pengganti kurikulum KTSP. Kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap dan perilaku. Di dalam Kurikulum 2013, terutama di dalam materi pembelajaran terdapat materi yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan. Materi yang dirampingkan terlihat ada di materi Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dsb., sedangkan materi yang ditambahkan adalah materi Matematika.

Kurikulum 2015

Kurikulum tahun 2015 ini ternyata masih dalam tahap penyempurnaan dari kurikulum 2013. Namun Ujian Nasional yang digelar pada tahun 2015 ternyata menggunakan Kurikulum 2006 yaitu KTSP. Karena, untuk saat ini, siswa yang sekolahnya sudah menggunakan Kurikulum 2013 baru melaksanakan tiga semester.

Jika kita perhatikan pada hakikatnya kurikulum di Indonesia sama dari tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, 2013, dan 2015 intinya mengarahkan siswa salahsatunya untuk mempunyai akhlak mulia. Tapi kenapa sampai terjadi kasus siswa membunuh gurunya apa ada kesalahan dari gurunya coba kita lihat lagi tugas dan tanggung jawab guru :

Tugas dan tanggung jawab seorang guru sebagai pendidik adalah mendidik sekaligus mengajar, yaitu membantu peserta didik untuk mencapai kedewasaan. Dalam proses pembelajaran tugas utama guru selain sebagai pengajar juga sebagai pembimbing. Guru hendaknya memahami semua aspek pribadi  peserta didik baik fisik maupun psikis dan mengenal, memahami tingkat perkembangan peserta didiknya yang meliputi kebutuhan, pribadi, kecakapan, kesehatan mentalnya, dan lain sebagainya. Perlakuan bijaksana akan muncul apabila guru benar-benar memahami seluruh aspek kepribadian peserta didiknya.

Berkenaan dengan peran guru sebagai direktur pembelajaran, guru hendaknya senantiasa menumbuhkan, memelihara, dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Untuk itu guru harus mampu :

  • Mengenal dan memahami setiap siswa baik sebagai individu maupun kelompok.
  • Memberikan berbagai informasi yang diperlukan dalam proses pembelajaran.
  • Memberikan kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengankarakteristik pribadinya.
  • Membantu (membimbing) setiap siswa dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya.
  • Menilai keberhasilan siswa

Guna mewujudkan fungsi dan peran di atas, merupakan suatu keniscayaan bagi setiap guru untuk menguasai bimbingan dan konseling.

Kalu melihat tugas dan tanggung jawab guru sangat berat apakah ini bisa dilaksanakan dengan baik saya kira ini harus ada kerjasama antara guru dan orang tua siswa dan jika kita melihat tanggung jawab orang tua dalam pendidikan bisa kita lihat :

Sebagaimana kita ketahui bahwa pendidikan itu dapat dilaksanakan dimana saja, baik dilingkungan keluarga, lingkungan sekolah, maupun dalam lingkungan masyarakat. Oleh karena itu sebagai orang tua wajib memberikan pendidikan kepada anaknya. Orang tua dalam kaitannya dengan pendidikan anak adalah sebagai pendidik utama, maka dari itu tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak diantaranya memberikan dorongan atau motivasi baik itu kasih sayang, tanggung jawab moral, tanggung jawab sosial, tanggung jawab atas kesejahteraan anak baik lahir maupun batin, serta kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pendidikan bukan hanya ada di sekolah saja tetapi pendidikan itu bisa dengan membimbing dan mengarahkan anak kepada norma-norma agama dan adab sopan santun dalam kehidupannya nanti di masyarakat. Dengan bimbingan dan pengarahan yang baik dari orang tua terhadap anak sejak usia dini, maka diharapkansetelah dewasa nanti segala tindakannya akan selalu didasari dengan nilai-nilai agama. Sekarang ini banyak sekali para orang tua yang kurang memperhatikan dan mengarahkan anaknya, justru mereka sibuk dengan kepentingannya sendiri sehingga lupa dengan kewajibannya sebagai orang tua yang sangat dibutuhkan oleh seorang anak.

Keutuhan orang tua juga merupakan salah satunya untuk mendukung pendidikan seorang anak, karena itu akan membuat seorang anak merasa mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya, tetapi tidak menutup kemungkinan bagi seorang anak yang tidak memiliki orang tua yang utuh masih bisa mendapatkan pendidikan dari orang tuanya, itu semua tergantung dari masing-masing individunya.

Banyak juga anak dari keluarga yang mempunyai orang tua yang utuh, ekonominyabagus, dan pendidikan orang tua yang tinggi tetapi tidak pernah mendapatkan bimbingan dan arahan dari orang tuanya sehingga mereka menjadi anak yang kurang kasih sayang dari orang tuanya serta tindakan yang dilakukannya tidak bisa terkendali dan tidak terkontrol, maka dari itu peranan orang tua di dalam keluarga yang paling dominan atau menonjol adalah sebagai penanggung jawab kepada anggota keluarganya, diantaranya pendidikan karena dengan memperoleh pendidikan maka seorang anak akan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk agar tidak terjerumus dalam kemungkaran.

Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak

Institusi yang pertama tempat seorang anak belajar adalah rumah. Seorang anak paling banyak menghabiskan waktu bersama orang tuanya di mana mereka belajar dari orang tua dan lingkungan rumah. Orang tua memainkan peran penting dalam pendidikan anak mereka, berapapun usianya maupun tingkat pendidikannya, sebagaimana telah diketahui dalam fungsi keluarga menurut para ahli. Jika orang tua memberikan perhatian pada anak mereka, anak-anak akan memiliki kecenderungan untuk meraih prestasi yang lebih baik jika dibandingkan dengan anak-anak yang diabaikan oleh orang tua.

Sebagai lingkungan formal yang memberikan pendidikan bagi anak, sekolah tidak bisa disingkirkan dari pendidikan keluarga dan cara menerapkannya. Dukungan orang tua pada aktivitas belajar di rumah dikombinasikan dengan keterlibatan orang tua pada sekolah anak sangatlah penting bagi proses pendidikan anak-anak. Riset yang berkembang menunjukkan bahwa membangun hubungan yang efektif antara orang tua, keluarga, dan sekolah untuk mendukung pembelajaran anak dapat mengarah pada hasil belajar yang meningkat. Orang tua adalah pengajar yang pertama dan yang kontinu mendidik anak. Riset juga menunjukkan bahwa kualitas guru, termasuk juga standar dan pelatihannya,menjadi faktor penting yang memengaruhi fasilitasi hubungan orang tua-pendidik.

Pentingnya Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Anak

Pentingnya hubungan yang produktif antara guru, orang tua, dan sekolah yang bekerja sama memaksimalkan pencapaian anak di sekolah telah diakui oleh banyak lembaga. Keterlibatan peran orang tua dalam pendidikan anak selain terdiri dari hubungan antara keluarga, sekolah, dan komunitas, juga terdiri dari peningkatan kesadaran orang tua terhadap manfaat peran keluarga dalam berbagai aspek dalam pendidikan anak, sebagaimana yang dikatakan Muller (2009): ‘hubungan antara keluarga dengan pendidik dan komunitas telah memberi definisi baru pada batasan dan fungsi pendidikan. Hubungan tersebut memperbesar kapasitas orang tua dan komunitas; menciptakan kondisi di mana anak dapat belajar dengan lebih efektif.’

Riset menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam berbagai hal memiliki dampak yang positif pada beberapa indikator pencapaian anak, seperti:

  • Nilai yang lebih tinggi
  • Keberhasilan pendaftaran ke jenjang yang lebih maju dan lebih tinggi
  • Tingkat drop-out yang lebih rendah
  • Tingkat kelulusan yang lebih tinggi
  • Kemungkinan mendapatkan pendidikan tersier seperti les privat

Di balik pencapaian pendidikan, keterlibatan orang tua diasosiasikan dengan bermacam indikator perkembangan anak yang meliputi:

  • Kemampuan sosial yang lebih baik
  • Tingkat laku yang meningkat
  • Kemampuan adaptasi di sekolah
  • Kesadaran yang tinggi dalam kompetensi pribadi
  • Keterlibatan dalam kegiatan sekolah
  • Kepercayaan yang kuat terhadap pentingnya pendidikan
  • Cara Menerapkan Peran Orang Tua Dalam Mendidik Anak

Orang tua dan keluarga secara keseluruhan adalah pengaruh yang paling penting dalam kehidupan seorang anak. Dukungan mereka dapat memainkan peran vital dalam setiap tahap pendidikan. Orang tua yang berperan mendukung dalam pembelajaran anak mampu membuat perbedaan dalam meningkatnya prestasi dan tingkah laku. Keterlibatan aktif dari orang tua juga mampu membantu apabila mereka mempraktikkan hal-hal sebagai berikut yang merupakan peran orang tua dalam mendidik anak :

Memberikan anak waktu lebih

Hal ini sudah sering kali dikatakan dalam berbagai bahasan mengenai hubungan orang tua anak, di mana komunikasi adalah faktor yang primer. Begitu pula dalam aspek pendidikan. Luangkan waktu di sela kesibukan Anda demi anak. jika Anda terus mengabaikan mereka, mereka akan kehilangan rasa tanggung jawab dan ketertarikan terhadap studinya.

Luangkan waktu sebanyak mungkin dengan mereka dan diskusikan studi mereka setiap hari. Tanya anak apa yang mereka baca di sekolah. Bantulah mereka dalam studinya, jika bisa. Bicaralah pada mereka cara-cara untuk dapat berkembang di sekolah. Berikan mereka kesadaran akan pentingnya belajar dalam hidup. Dengan begini, anak akan mulai menumbuhkan ketertarikan pada studi mereka.

Untuk cara ini, perlu diketahui pentingnya pendidikan karakter sejak dini. Dengan mengetahui karakteristik anak usia dini, orang tua dapat mengetahui lebih awal apa saja yang dapat mereka lakukan untuk menyediakan pendidikan terbaik yang cocok dengan potensi anak.

Memberikan anak lingkungan yang mendukung di rumah

Lingkungan rumah dapat memberi pengaruh besar pada kehidupan anak sebagai seorang pelajar. Ciptakan lingkungan penuh kasih sayang dengan hubungan yang baik antara seluruh anggota keluarga. Menciptakan lingkungan seperti ini juga merupakan perwujudan dari peran keluarga dalam pendidikan moral anak sekaligus juga cara mendidik anak yang tepat. Anak akan  memahami bahwa studi mereka penting sebagaimana pentingnya menjaga diri serta hubungan keluarga yang baik. Jika lingkungan rumah membuat anak stres, mereka tidak akan mampu berkonstrasi secara maksimal pada pembelajarannya.

Ciptakan lingkungan yang mendukung dan mendidik di rumah Anda. Jangan melakukan aktivitas yang dapat mengalihkan perhatian anak sementara mereka belajar seperti, menonton televisi ketika anak sedang mengerjakan PR atau belajar untuk ujian. Sediakan tempat yang tenang agar mereka dapat belajar dengan konsentrasi tinggi.

Memberikan anak Anda semangat

Hargai anak baik di saat mereka mendapatkan nilai ujian yang bagus maupun ketika mereka tidak mendapat hasil yang diinginkan karena sesungguhnya mereka telah bekerja keras. Dengan menghargai prestasi mereka dalam ujian mereka akan tetap berusaha untuk mendapat penghargaan lebih. Begitu juga sebaliknya. Menyemangati anak jika mereka gagal atau mendapat nilai buruk dalam ujian akan membuat mereka mampu bangkit kembali dan memulai dengan semangat yang baru. Dengan demikian Anda telah mewujudkan cara menjadi orang tua yang baik bagi anak.

Menjalin jaringan dengan guru sekolah anak Anda

Sesekali kunjungi sekolah anak Anda dan tanyakan pada guru yang bersangkutan mengenai studi mereka. Hal ini akan memberikan Anda pengetahuan tentang studi yang sedang mereka jalani di sekolah. Anda akan mengetahui kelemahan anak juga bagaimana Anda dapat membantu mereka meningkatkan diri sesuai dengan keperluan dan selanjutnya Anda akan dapat mengetahui cara mendidik anak yang baik.

Mendiskusikan masalah anak bersama-sama

Anak Anda mungkin saja memiliki halangan dalam proses belajarnya. Tanyakan apakah mereka punya masalah di sekolah termasuk apakah mereka memiliki masalah dalam peran anak dalam keluarga dan cara menerapkannya. Cobalah untuk menemukan penyelesaiannya. Tetap bersikap bersahabat selagi berdiskusi tentang hal tersebut agar mereka tahu cara agar percaya diri dalam menghadapi masalah-masalahnya.

Mengawasi aktivitas anak

Amati aktivitas keseharian anak anda dan lihatlah jika mereka mungkin memanfaatkan energi dan waktu mereka untuk kegiatan yang tidak penting. Mereka mungkin saja menghabiskan waktu menonton film atau bermain game terlalu lama. Tetapi meski demikian jangan pernah mencurigai apa yang anak Anda lakukan selagi Anda tidak melihat. Sebaliknya berikan mereka pengertian terhadap kewajiban anak di rumah beserta tanggung jawabnya supaya mereka tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan dengan waktu dan energi mereka.

Meningkatkan kebiasaan belajar anak

Beri anak nasihat tentang bagaimana mereka dapat meningkatkan kebiasaan belajar mereka. Buatlah mereka tidur tepat waktu dan bangun lebih awal di pagi hari. Buatlah mereka duduk untuk belajar jika mereka tidak melakukannya. Tunjukkan pada mereka beberapa tips belajar yang baik dan cara menyiapkan diri untuk ujian. Hindarkan anak dari aktivitas-aktivitas tidak berguna. Hal ini juga berlaku untuk anak yang masih dalam usia dini. Salah satunya dapat dimulai dari mengetahui cara mengajari anak membaca dengan mudah. Selanjutnya semakin anak dewasa, mereka akan mendapat kemudahan-kemudahan dalam belajar secara formal.

Menyeimbangkan sikap ketika menasihati anak

Sebagai orang tua, Anda harus tetap menyeimbangkan antara perasaan kasih sayang Anda dengan ketegasan Anda pada anak. Perlakukan mereka dengan penuh kasih sayang ketika memberikan nasihat untuk studi mereka namun perlakukan mereka dengan tegas dan disiplin ketika melarang mereka melakukan sesuatu.

Jangan pernah memukul mereka, cukup berikan mereka larangan membuang waktu atau larangan bersikap tidak sopan atau melakukan kegiatan tidak penting sehingga anak paham bahwa mereka harus menuruti Anda. Namun jangan sampai sikap Anda yang terlalu keras membuat Anda memiliki ciri orang tua yang protektif terhadap anak. Anda terlebih dahulu harus mengetahui bagaimana cara meredam emosi diri.

Menjadi orang tua yang kreatif

Kemajuan teknologi saat ini telah menyediakan banyak cara baru bagi anak Anda belajar. Manfaatkan website-website berkualitas yang menawarkan tugas-tugas latihan untuk sekolah atau aktivitas yang berkaitan dengan topik yang sedang anak Anda pelajari di sekolah. Cari video yang berhubungan dengan konsep mata pelajaran anak. Bawa anak ke perpustakaan atau museum untuk memberi mereka pengalaman baru. Dengan bahan-bahan tersebut Anda dapat membantu anak belajar dengan memberikan mereka penjelasan dari sudut pandang berbeda.

Kombinasikan minat anak dengan mata pelajaran yang sedang anak pelajari

Jika anak Anda sedang mempelajari tabel perkalian di sekolah tetapi di sisi lain ia senang menulis, bekerjalah bersama anak Anda untuk misalnya, membuat cerita tentang soal perkalian. Temukan minat anak dan bagaimana Anda dapat mengombinasikannya dengan anak. Percobaan ini akan membuat anak tidak hanya lebih semangat dalam pendidikan namun juga membuat mereka berprestasi dalam sisi akademis dan dalam hobi yang sangat mereka sukai.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa kurikulum dan Undang-Undang sudah jelas tujuannya untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tapi apakah tugas dan tanggung jawab guru itu sudah terlaksanakan dengan baik ??? hemat saya belum karna tugas guru sangat berat dan tuntutan sangat besar dan peran orang tua juga kurang baik dalam hal pendidikan anaknya banyak orang tua yang menyerahkan sepenuhnya kepada lembaga pendidikan sedangkan orang tua juga dituntut untuk berperan aktif dalam proses pendidikan anaknya, sehingga kasus guru Ahmad Budi Cahyanto, hemat saya tidak akan terjadi jika antara guru dan orang tua berperan aktif dalam proses pendidikannya disekolah, jadi untuk memperbaiki proses pendidikan di Indonesia orang tua harus berperan aktif kerjasama dengan guru dalam mendidik anaknya sehingga tidak ada lagi kasus seperti Ahmad Budi Cahyanto lainnya dan inilah realitasnya pendidikan di indonesia.

 

Comment

News Feed