by

Kopi Teman Sejati Bukan Kendaraan Politik Sejati

-Opini-13 views

Penalutim.co.id – Berbicara tentang “Kopi”, tidak seorangpun yang tidak mengenal jenis minuman ini, mulai dari strata sosial  golongan bawah, menengah dan starata social elite, mudah  atau tua hingga mereka yang berbeda keyakinanpun tahu jenis minuman ini.

Bahkan mereka yang berselisih pandangan politikpun tahu minuman ini,  karena kadang mereka harus menjadi peminum ataupun penikmat kopi sebagai jalan untuk menjalin hubungan silaturhami demi mencapai kesepakatan mereka atau biasa dikatakan berkolaborasi untuk mencari cara duduk dan bersandiwara di depan publik.

Sebelum masuk terlalu jauh, kita lanjut dulu dari mana dan kapan munculnya kopi. Kopi itu sendiri lahir di Ethiopia sejak 800 tahun SM yang di konsumsi sebagai buah hingga disajikan dalam acara-acara pertemuan antar golongan.

Banyak yang percaya bahwa kopi adalah entitas  yang sangat penting. Di level personal, kopi membantu membentuk budaya dan sejarah manusia. Karena kopi memiliki peran penting sebagai tempat berkumpulnya kaum intelektual, sarang seniman, mahasiswa, jurnalis dan politisi.

Mark Pendergast mengatakan kedai kopi merupakan tempat lahirnya ide-ide revolusioner dalam masa colonial amerika. Minum kopi menjadi simbol kesetian pada revolusi dan kopi jadi simbol perlawanan terhadap naiknya pajak oleh pemerintah inggris di waktu itu. Dua ratus tahun kemudian bangsa arab mengenalkan pada dunia sebagai sebuah minuman.

Istilah  kopi bersumber dari kata bahasa arab yang mengalami asimilasi oral yang cukup panjang. Sehingga kopi dalam bahasa arab dikenal dengan qahwah yang kemudian menular kepada orang turki dengan menyebutnya sebagai kahveh ,tidak hanya sampai disitu kata ini terus mengalami transformasi verbal hingga ke belanda dengan sebutan koffie  dan terus menyebar masuk ke nusantara saat masa penjajahan dan rakyat Indonesia menyebutnya sebagai kopi dan jumlah penikmat kopi di dunia hingga saat ini diperkirakan sebesar 70% dari jumlah penduduk di dunia.

Dan hingga sekarang memboomingnya kopi yang bermunculan mulai berbagai rasa racikan barista hingga suasana yang terbangunpun sangat unik sehingga memanjakan pengunjung mendapatkan suasana posisi kenikmatannya di level tertinggi.

Bukan cuma itu, peminum ataupun Penikmat Kopi  mampu hidup berdampingan secara damai menikmatinya tanpa perselisihan tentang rasa. Namun kadang yang paling sering terjadi perselisihan kepentingan golongan elite yang lebih mengedepankan ambisinya untuk duduk di berbagai macam kursi pemerintahan negeri ini, tanpa mengedepankan rasa nikmatnya hidup berdampingan tanpa memfitnah kelompok A ataupun B.

Wajar saja mereka bersikap seperti itu karena mereka hanya peminum kekuasaan dan kerakusan bukan penikmat dan memantaskan diri. Kenapa demikian bahwa gambaran pemimpin saat ini dan instansi apapun itu mereka hanya seperti peminum bukan penikmat atas apa yang telah menjadi tanggung jawabnya dan sebagai sakralnya mereka diberikan sumpah jabatan agar bisa bekerja sesuai dengan garisnya bukan bekerja sesuai kepentingan pribadi dan kepentingan partainya.

Yang menjadi penikmat hanya beberapa saja bisa dikatakan bahwa bersuara minor. Seandainya pemimpin di setiap intansi ataupun fraksi dari kelompok A ataupun B bekerja Seperti Penikmat kopi setidaknya bisa mengurangi sedikit problem di Negeri ini namun yang di pertontonkan seperti peminum yang begitu ajaibnya mensetting sendi-sendi setiap sudut terang menjadi gelap, yah inilah realitas kecil yang terlihat dari segi politik.

Mengapa kopi menjadi teman sejati karena pada dasarnya kopi bukan penyebab seperti apa yang telah dirasakan segelintir orang tentang berita miring kopi, apalagi kopi bersianida. Menurut Harvard Women’s Health, konsumsi kopi beberapa cangkir sehari dapat mengurangi resiko diabetes tipe 2, pembentukan batu ginjal, kanker usus besar, penyakit Parkinson ,kerusakan hati (sirosis), penyakit jantung serta menghambat penurunan daya kognitif otak.

Meminum kopi secara teratur sesuai dengan takaran porsinya dapat memaksimalkan kerja otak secara lebih baik. dan penelitian dari Edward Giovannucci dari Harvard, dalam riset yang di publikasikan dalam epidemilogi Cancer Biomarkers & Prevention, mencatat bahwa kopi memiliki antioksi dan lebih dari hampir semua jenis sayuran dan buah.

Zat kafein dalam kopi berfungsi sangat baik sebagai stimulant pada tubuh kita. Hal ini dapat merangsang indera kita dan meningkatkan laju metabolisme. Sehingga meningkatkan kemampuan dalam berkonsentrasi mengatasi perubahan suasana hati bahkan depresi.

Melihat dari Manfaat Kopi bisa menjadi obat untuk teman yang dulunya takut meminum kopi dan segera mungkin untuk belajar mencintai dan menikmati kopi. Berangkat dari kopi antara peminum ataupun penikmat kopi baik itu di tarik kedalam pandangan atau gambaran prkatek berpolitik dan yang ingin saya katakan semoga saja manfaat dan fungsi politik sama halnya kopi yang memberikan manfaat bagi penikmatnya.

Kekeliruan dalam berfikir, menganalisa, dan berpendapat semuanya merupakan sisi gelap penulis dan yang akan memberikan lebih berwarna adalah anda yang membaca dan memberikan masukan sebagai penyempurna.

 

Penulis : Ikmal Nurdin

Editor : Redaksi

Photo : Ikmal Nurdin

Comment

News Feed