Sorowako, Penalutim.com – Pengelolaan lingkungan berkelanjutan adalah salahsatu kewajiban perusahaan pertambangan. PT Vale Indonesia (PTVI) Tbk, yang telah berusia 57 Tahun beroperasi di Bumi Batara Guru, Kabupaten Luwu Timur terus membuktikan komitmennya menjaga dan melestarikan lingkungan berkelanjutan di area operasional tambang nikel PTVI.
Menghargai bumi dan masyarakat adalah komitmen PTVI yang hingga saat ini terus dibuktikan. 57 Tahun beroperasi PTVI membuktikan perusahaan pertambangan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Aktivis Karang Taruna Akui PTVI Perusahan Tambang Ramah Lingkungan
Hal ini diungkapkan oleh Aktivis Muda, Ketua Karangtaruna Kecamatan Towuti, M.Efendi. Ia mengakui PTVI adalah perusahaan pertambangan yang ramah lingkungan. Menghargai nyawa hewan apalagi nyawa manusia yang berada di wilayah sekitar operasional PTVI.
“Bukan saya memuji PTVI. Tapi, saya selaku Pemuda yang lahir dan tumbuh di Towuti, mengakui metode penambangn PTVI yang telah beroperasi selama 57 tahun. Terlepas dari dinamika antara PTVI dan masyarakat yang terdampak. Saya juga harus akui bahwa Vale perusahaan tambang yang ramah lingkungan, Menghargai nyawa hewan terlebih khusus nyawa manusia,” Ucap M. Efendi kepada Penalutim, Kamis (31/7/2025).
Salah satu buktinya, Lanjut Efendi, Vale menciptakan pon, sehingga limba tidak terkontaminasi lasung dengan air danau Towuti, danau Mahalona dan danau Matano.
“Selain dari itu, Vale juga melakukan penghijauan kembali terhadap lahan yang sudah mereka Tambang. Dan yang lebih keren slogannya ya itu No Safety No Production. Coba bandingkan perusahaan tambang llainnya, sangat miris bro,” Papar Efendi.
Bupati Luwu Timur Sebut PTVI Perusahan Tambang Sehat dan Menjaga Lingkungan
Selain itu, Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam (IBAS) juga mengutarakan pandangannya kepada PTVI yang telah 57 tahun menambang di Luwu Timur. Bupati mengatakan masyarakat Luwu Timur telah 57 tahun hidup berdampingan dengan aktivitas pertambangan nikel PTVI. Terkait lingkungan, masyarakat Luwu Timur tahu persis bagaimana PTVI mengelolah pertambangannya yang sehat dan menjaga lingkungan.
“Bapak Ibu tidak usah menceritakan kepada kami soal lingkungan. Kami sudah 57 tahun hidup berdampingan dengan PTVI. Kami tau persis bagaimana mereka mengelola pertambangan,” Kata IBAS di Sorowako (24/7/2025).
Bupati IBAS sebut Danau Matano adalah contoh nyata aktivitas pertambangan PT Vale yang tetap menjaga lingkungan. 57 Tahun pertambangan PT Vale beroperasi berdampingan Danau Matano. Tapi tidak ada air danau yang keruh.
“Bisa kita cek di daerah lain, ada yang menambang di pinggir laut sampai airnya keruh. Saya sampaikan ke para investor, silakan lihat Pertambangan PT Vale di Sorowako, yang paling utama menjaga lingkungan,” Ucap Bupati Luwu Timur.
PTVI Olah Sampah Menjadi Gas Digunakan Pelaku UMKM
Tidak hanya itu, PTVI melalui program CSRnya mengolah sampah masyarakat yang juga merupakan adalah tanggung jawab sosial dan kewajiban PTVI di wilayah operasionalnya. PTVI mengolahsampah masyarakat menjadi berharga memiliki nilai ekonomi. Sebut saja BIONI atau Biodigester Nikel adalah program CSR PTVI mengolah sampah organik dari sisa makanan masyarakat menjadi gas metana. Selain itu, sisa cairannya juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair (POC).
Manajer Environment PTVI, Umar Kasmon menjelaskan program pengelolaan sampah dengan metode Biodigester adalah Sampah organik yang diolah menggunakan teknologi Biodigester bekerja secara anaerobik dengan bakteri berubah menjadi Gas Metana yang sangat rendah tekanannya sehingga sangat aman digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
Umar menjelaskan asal muasal inisiatif pengelolaan sampah metode Biodigester ini berawal dari hasil identifikasi di Tempat Pemilahan Sampah PTVI di lokasi Segregation Plant, lebih dari 30 persen Sampah yang masuk merupakan Sampah organik.
“Kami melihat bahwa mayoritas Sampah yang masuk ke TPA justru adalah organik. Maka dari itu, penting bagi kami untuk memulai pemilahan langsung dari sumbernya,” Jelas Umar.
Sumber sampah organik yang dimaksud Umar tersebut yakni dari rumah masyarakat. Dari sinilah muncul Inovasi program Emberisasi. Emberisasi itu sendiri adalah program memilah sampah sisa makanan dari rumah tangga karyawan PTVI di Pontada.
“Jadi sampah yang dihasilkan dari program Emberisasi itu dikelolah di Biodigester berubah menjadi Gas Metana yang dimanfaatkan oleh 14 pelaku UMKM secara gratis di Pujasera Sorowako, kelurahan Magani, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur,” Papar Umar.
Menurut Umar, PTVI melakukan hal ini tujuan utamanya bukan hanya hasil akhir berupa gas dan pupuk, melainkan aspek edukatif bagi masyarakat.
“Tujuan utamanya adalah mengedukasi masyarakat bahwa Sampah bisa dimanfaatkan kalau dipilah sejak awal. Kalau sudah tercampur, ujungnya hanya bisa dibakar atau masuk ke landfill, yang justru berisiko menghasilkan gas beracun,” tambahnya. (Rm)







