Menu

Dark Mode
Tinjau Fasilitas Olahraga di Wasuponda, Bupati Irwan Instruksikan Pembenahan Kunjungi Korban Kebakaran di Angkona, Wabup Puspawati Berikan Bantuan dan Semangat Lomba Perahu Naga Sukses Digelar, Para Juara Dapat Hadiah Tambahan dari Bupati Luwu Timur Raih Opini WTP Ke-14, Bukti Tata Kelola Keuangan yang Sehat Sukses Terselenggara, Masyarakat Bahagia, Kadis Parmudora: Lomba Perahu Naga Akan Menjadi Event Tahunan Luwu Timur Tutup Road Race Bupati Cup II, Irwan Beri Apresiasi Tambahan dan Hadiah Khusus

Pena Ekonomi

Gunakan Maggot, PT Vale Indonesia Olah Sampah Masyarakat Menjadi Pupuk Kompos

badge-check


					Gunakan Maggot, PT Vale Indonesia Olah Sampah Masyarakat Menjadi Pupuk Kompos Perbesar

Sorowako, Penalutim.com – 57 Tahun PT Vale Indonesia beroperasi sebagai perusahaan tambang nikel di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan telah membuktikan komitmennya hadir bukan hanya sekedar menambang, akan tetapi perusahaan pertambangan nikel pertama ini juga telah membangun masa depan yang lebih baik khususnya bagi masyarakat sekitar operasional pertambangan dan secara umum bagi masa depan Indonesia.

PT Vale Indonesia telah terbukti mengintegrasikan prinsip-prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) ke dalam strategi bisnis. Komitmen tersebut dalam rangka menciptakan nilai jangka panjang yang bermanfaat secara luas, baik bagi lingkungan, masyarakat, maupun pemerintah.

Perusahaan Tambang Nikel yang merupakan bagian dari PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID ini melakukan hal tersebut sebagai upaya untuk mencapai cita-cita bebas sampah (zero waste) pada 2050.

Salah satu bentuk upaya tersebut, dengan melakukan pengelolaan sampah domestik berbasis sirkular ekonomi, dengan pemilahan sampah bernilai ekonomis. Upaya pemilahan dan pemanfaatan sampah melalui prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) akan secara signifikan mengurangi sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Beberapa upaya pengolahan yang dilakukan yaitu implementasi teknologi BIONI, BSF (magot), komposter, dan donasi ke komunitas bank sampah.

PT Vale Indonesia melakukan pengelolaan sampah tersebut di  area Segregation, Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Proyek ini dikerjakan oleh mitra kontraktor lokal Luwu Timur PT Vale dan menggunakan tenaga kerja lokal area sekitar operasional PT Vale Indonesia yakni Malili, Wasuponda, Towuti dan masyarakat Nuha.

“Jadi di sini tempat pemilahan. Sampah yang kami kumpulkan dari kegiatan kami, ada organik dan anorganik, serta B3 itu kami pisah semua,” kata Senior Manager of Environment & Reclamation Operation PT Vale Indonesia, Muhammad Firdaus Muttaqi, Jumat (25/7/2025).

Muhammad Fidaus Muttaqi menjelaskan proses pengolahan sampah itu diawali dengan pengangkutan sampah di seluruh area kerja PT Vale Indonesia di Sorowako, dan juga dari  sampah masyarakat yang bermukim di sekitar wilayah operasional PT Vale Indonesia di Sorowako. Sampah kemuadian diantar dan dikumpulkan di area dumping. Lalu, dipilah berdasarkan jenisnya.

Menurut Foreman Ground Work Segregation Plant PT Vale Indonesia, Hery Sudarto, limbah seperti plastik, sisa makanan dan limbah kayu menjadi komponen utama yang dikelola.

“Seperti limbah plastik dipilah di Segregation Plant dipres kemudian diikat kawat. Setiap ikatan berbobot antara 16 hingga 18 kilogram. Selanjutnya limbah plastik ini diserahkan ke empat bank sampah milik BUM-Des, yakni Magani, Malili, Wasuponda, dan Desa Nikel yang berada di area operasional PT Vale Indonesia. Jumlah sampah plastik yang sudah dipilah per bulan sekitar 1,2 ton. Berdasarkan Data Januari–Juli 2025, sudah kita donasikan sekitar sembilan ton,” kata Hery.

Ia mengatakan limbah plastik yang telah didonasikan ke BUMDes ini mereka daur ulang, mengubah sampah menjadi penghasilan bagi masyarakat. Sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular bagi masyarakat sekitar tambang.

“Untuk limbah yang tidak bisa didaur ulang, seperti limbah B3, dikembalikan ke pabrik pengelola pihak ketiga,” Tutur Hery.

Di  area segregation PT Vale Indonesia juga membudidayakan Maggot (larva lalat Black Soldier Fly).  Maggot ini digunakan untuk memakan sampah sisa makanan masyarakat. Maggot yang tidak produktif lagi diberikan kepada peternak ikan untuk digunakan sebagai pakan ikan.

“Sebelum diberikan untuk makanan Maggot. Sampah organik sisa makanan masyarakat ini kami cacah dulu di tempat mesin pencacah kecil. Setelah itu, kami berikan di tempat Maggot. Maggot ini sangat efektif untuk semua limbah organik,”kata Hery.

Tidak hanya itu, Muhammad Firdaus Muttaqi bilang di area segregation. PT Vale Indonesia juga mengelolah limbah kayu palet dan sisa kayu dari lokasi tambang dicacah menggunakan mesin, lalu diolah menjadi pupuk kompos yang digunakan untuk reklamasi dan penghijauan lahan bekas tambang.

“Untuk palet kayu dan sisa kayu lainnya (setelah dicacah) kita manfaatkan dijadikan pupuk kompos untuk pembibitan, kadang juga didonasikan ke warga,” katanya.

“Setiap 1 ton sampah organik PT Vale Indonesia bisa menghasilkan 500-700 kilogram (kg) pupuk kompos per hari dari hasil pengelolahan sampah organik makanan sisa dan kayu bekas,” Sebut Firdaus.

Firdaus juga menyebutkan bahwa kapasitas penampungan limbah di Segregation Plant mencapai 10–20 ton per hari. Produk olahan seperti pupuk kompos sangat dibutuhkan untuk program reklamasi lahan.

“Kebutuhan pupuk kompos itu sekitar 2.500 kilogram dipakai untuk reklamasi penghijauan. Satu karung serbuk kayu pupuk kompos itu seberat 20 kilogram,” tuturnya. (Rm)

 

Facebook Comments Box

Read More

Hadiri Peresmian KDKMP Wabup Puspawati Tegaskan Pengelolaan Secara Profesional, Transparan, dan Akuntabel

16 May 2026 - 23:29 WITA

Resmikan Kantor Baru Kejari Lutim, Kajati Sulsel Apresiasi Kolaborasi Pemkab dan Kejaksaan Dorong Kemajuan Daerah

12 May 2026 - 14:42 WITA

Melalui Pelatihan Vokasional Ketua Dekranasda Lutim Dorong Inovasi Anyaman Serat Alam

12 May 2026 - 05:26 WITA

Trending on Daerah