Tabarano, Penalutim.com – Setelah menggelar simulasi implementasi Rencana Tindak Darurat (RTD) Bendungan Seri Sungai Larona di Malili, pada Rabu, 18 Juni 2025. Kini PT Vale Indonesia Tbk melakukan Pelatihan Mitigasi dan Adaptasi Bencana yang digelar di Bukit Tabor, Desa Tabarano, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari Jumat -Sabtu (20-21/6/202).
Hal ini dilakukan PT Vale Indonesia Tbk, sebagai salahsatu komitmen Perseroan pertambangan nikel berkelanjutan yang berakar kuat di Indonesia dan berkomitmen pada prinsip-prinsip keselamatan khususnya pada area sekitar operasional, PT Vale Indonesia Tbk di Blok Sorowako, Kabupaten Luwu Timur.
Bukan sekedar formalitas belaka atau mengugurkan kewajiban. Akan tetapi, PT Vale menunjukan langsung secara nyata menjaga keselamatan masyarakat, khususnya di wilayah sekitar operasional perusahaan. Mayarakat sekitar operasional PT Vale Indonesia Tbk antusias mengikuti pelatihan dan mitigasi bencana ini. Khusus di kecamatan Wasuponda ada Empat desa keterwakilan masyarakat yang menjadi peserta, yakni dari Desa Tabarano, Desa Ledu-Ledu, Desa Balambano, dan Desa Wasuponda. Tidak Hanya itu, komunitas pemuda juga terlibat menjadi peserta seperti Karang Taruna Desa Tabarano dan Forum Anak lokal.
Sebelumnya, Head of Mine Sorowako Operation PT Vale, Iqbal Al Farobi mengatakan, perseroan berkewajiban secara berkala melakukan updating dokumen RTD dan simulasi sebagai pemilik dan pengelola bendungan, yakni Bendungan Batubesi yang dibangun 1978, Balambano yang dibangun 1999 dan Karebbe yang dibangun tahun 2011. Dimana, tiga bendungan tersebut berfungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di ketiga bendungan yang memasok energi listrik sebesar 365 megawatt untuk mendukung operasi Perusahaan.
“Simulasi RTD yang pertama kami lakukan pada akhir 2018, direncanakan berkala lima tahun sekali untuk mengetahui sekaligus mengevaluasi kesiapan kita dalam krisis dan kondisi darurat baik karena sebab alam atau ulah manusia,” kata Iqbal Al Farobi, mewakili Chief Operation and Infra PT Vale Abu Ashar.
Direktur Eksternal PT Vale Indonesia Tbk, Endra Kusuma mengatakan “Melalui kegiatan simulasi ini, kita semua siap dan sigap dalam menghadapi ketika terjadi bencana di daerah kita,” Ucap Endra Kusuma.
Kepala Desa Tabarano,Rimal Manuk Allo yang juga hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan harapannya kepada PT Vale Indoenasi Tbk.
“Kedepannya, kami berharap kegiatan seperti ini akan selalu disupport oleh PT. Vale Indonesia Tbk, maupun Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Timur. Kami melihat dalam simulasi tersebut menggambarkan kejadian sesungguhnya ketika terjadi bencana. Namun, sesungguhnya kami sama sekali tidak berharap tidak terjadi bencana di wilayah kita ini,” Harap Kepala Desa Tabarano.
“Kegiatan ini diikuti dengan sangat antusias oleh seluruh peserta walaupun kegiatan hanya sebentar. Akan tetapi, manajemen pengelolaan logistik dan pusat informasi terkelola dengan baik,” Kata Madras keterwakilan pengurus PMI Luwu Timur yang terlibat dalam pelaksanaa Pelatihan Mitigasi dan Bencana tersebut.
Ikut terlibat dalam menyukseskan pelatihan tersebut yakni, Muspika Kecamatan Wasuponda, BPBD Luwu Timur, Dinas Pemadam Kebakaran, Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH), PMI Luwu Timur, Tim FES, Puskesmas Wasuponda serta para fasilitator yang telah mempersiapkan kegiatan secara matang.
Dalam kegiatan ini, para peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga pembekalan praktik langsung. Hari pertama difokuskan pada pemahaman potensi risiko bencana yang mengancam wilayah Luwu Timur, kecuali bencana vulkanik.
Hari kedua dilakukan simulasi di mana pada simulasi tersebut terdapat kebakaran dan tanah longsor dimana para korban terdapat korban luka bakar, ibu hamil , warga tertimbun reruntuhan bangunan, korban patah tulang akibat kejatuhan reruntuhan pada saat terjadi gempa tersebut.
Simulasi korban 140 KK yang mengungsi ke tempat aman dan rumah keluarga, 3 orang meninggal dunia akibat tertimbun reruntuhan bangunan, 6 orang luka ringan dan rumah rusak berat 186 Rumah dan 37 rumah yang rusak ringan dalam simulasi tersebut.
Menurut Madras, Kegiatan seperti ini perlu terus dilakukan karena wilayah Luwu Timur memiliki potensi bencana yang cukup beragam. Terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, dan lansia, mereka perlu dibekali informasi jelas tentang apa yang harus dilakukan, baik saat di sekolah maupun di rumah. (Rm)








