Penalutim.com, Malili – Muhammad Izha Pringgo Pranendita, ingin jadi pengusaha. Tetapi tidak tahun ini. Nanti. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Negeri Paman Sam.
Lewis & Clark College, Portland, Oregon, kampus pilihan Pringgo. Letaknya di lingkungan alamiah Barat Laut Pasifik dari Amerika, 6 mil dari pusat kota Portland, Oregon (area metropolitan dengan populasi 2 juta orang).
Jika dari Samudera Pasifik, hanya 80 mil ke arah barat, Mount Hood dan Gunung Cascade hanya 50 mil ke arah timur. Dari lima kampus yang menerimanya, kampus yang ddidirikan pada tahun 1867 inilah paling ia sukai.

Pringgo Bersama Kedubes RI Untuk Bosnia
Meski kampus Methodist University, Fayetville, North Carolina. Universitas Concordia College, Moorhead, Minnesota. Universitas Lake Forest College, Lake Forest, Illinois. Dan Universitas Luther College, Decorah, Iowa menerimanya. Lewis & Clark jadi pilihan akhir.
Di universitas Lewis & Clark, Pringgo mendapatkan beasiswa $88.243 dollar per tahun atau sekitar Rp 1,4 miliar per tahun. “Insyaallah Agustus sudah mulai kuliah,” kata Pringgo di Tekstur Cafe, Desa Puncak Indah, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Rabu (03/07/24).
Pringgo berhasil menyelesaikan studinya di United World College in Mostar (UWC Mostar), Bosnia. Hanya dua tahun. Sekolah ini setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia jadi satu-satunya siswa asal Indonesia yang lulus di UWC Mostar.

Pringgo Bersama Sobat Buka Kursus Gratis Bhasa Inggris di Luwu Timur
Bosnia dan Herzegovina adalah sebuah negara di semenanjung Balkan selatan Eropa. Negara dengan ibu kota di Sarajevo ini berbatasan dengan negara Serbia di timur, Montenegro di tenggara, dan Kroasia di utara dan barat daya.
“Saya sudah lulus di SMAN 1 Malili, kemudian lulus di UWC Mostar pada tahun 2022. Orang bilang mengulang lagi di SMA,” ungkapnya sambil melempar senyum.
Pringgo daftar di UWC Mostar berkat informasi dari kakak kelasnya, Samintang. Samintang perempuan berprestasi yang sedang berkuliah di Universitas Hasanuddin. Samintang juga beberapa kali menjuarai lomba skala internasional mewakili Unhas.
“Jadi waktu itu (2020) waktunya sisa 10 hari. Saya pikir dicoba saja. Alhamdulillah, lulus,” kenangnya.
Sambil menunggu minuman, Pringgo ingat betul bagaimana tumbuh di tengah keterbatasan. Saat masih duduk di Taman Kanak-kanak, orang tuanya cerai. Kasih sayang dari ayah tak dirasakan.
Pringgo memilih ikut ibunya. Namun saat itu tinggal dan besar bersama kakeknya, Syukur. Rumahnya di Di Kelurahan Malili, Kecamatan Malili. Tak jauh dari SDN Puncak, dan SMPN 1 Malili. Di rumah ini, Pringgo mendapat perhatian dari Tante dan omnya, Riyan.
Kebutuhan Pringgo ditanggung oleh Pamannya. Termasuk tante, beserta kakek dan neneknya. Berkat mereka, Pringgo tak merasa kesepian. Bahkan, dunia kanak-kanak hingga masa remajanya sungguh menyenangkan.
Pringgo tak begitu ingat lagi wajah ayahnya, Taufik. Tahun lalu ia sempat ke Kabupaten Wajo mencari ayahnya. Tak ada niat lain, hanya sekadar ingin tahu wajah ayahnya. Ia tak ingin mengharapkan hal yang lain. Termasuk kasih sayang.
“Saya tak ingin kecewa. Dan saat itu sempat ketemu, dan sambutannya biasa saja. Dia juga sudah punya keluarga. Ada anak dan istri,” ungkapnya dengan mata agak berkaca-kaca. Pipinya agak memerah.
Ia bisa kenal banyak orang dan berbuat hal-hal yang membuatnya senang. Utamanya berkomunitas. Pringgo membentuk komunitas belajar bahasa inggris. Namanya BELT (Batara Guru English Literature). Inspirasinya dari Kampung Inggris, Pare, Kediri.
“Saya belajar bahasa inggris lewat game, lagu, dan film (otodidak,red). Itu sih. Dan saya kira tidak sulit belajar bahasa inggris untuk anak-anak saat ini,” tuturnya sembari melepas cincin besi putih di jari telunjuk kirinya.
Masih ada dua cincin lagi. Yang satu berwarna kuningan. Melekat di jari tengah kiri. Satu lagi dijadikan liontin kalung. Yang dikalung ini pemberian dari kekasihnya.
Pringgo tak lupa diri. Di Malili, Pringgo tetap berkegiatan. Menyelenggarakan kursus bahasa inggris. Kali ini akan berakhir hingga bulan Agustus. Setelahnya itu, ia harus berangkat ke Amerika Serikat.
“Tahun lalu, kami juga membuat kegiatan kursus bahasa inggris gratis di sekolah. Kegiatan dibuka dan ditutup oleh Pak Camat Malili (Nasir). Sertifikatnya ditandatangani Bupati Luwu Timur (Budiman),” kenangnya.
Jika sudah menyelesaikan studinya di Negeri Paman Sam, Pringgo ingin balik ke kampung halaman. Ingin berbagi. Soal kerjaan, ingin menjadi seorang pengusaha. “Nanti kalau ada uang,” tutup Pringgo dengan senyuman. (***)








