Polres Lutim Gelar Pres Rilis, Terkait Dugaan Kasus Pemerkosaan Di Hotel Meriya Soroako

Penalutim.com, Luwu Timur-Kepolisian resort Luwu Timur menggelar, gelar konfrensi pers terkait dugaan  tindak pidana pemerkosaan yang terjadi di Hotel Meriya Sorowako.

Konferensi pers dipimpin langsung Kapolres Luwu Timur, AKBP Silvester Simamora di aula Tribrata Mapolres Luwu Timur, Sabtu (18/11/2023). Dalam konferensi pers itu kapolres didampingi Wakapolres Luwu Timur Kompol Syamsul P serta kepala UPTD perlindungan perempuan dan anak (PPA) Firawati.

Kapolres mengatakan, kasus tersebut bermula dari adanya laporan polisi (LP) Nomor  87/XI/2023 , kejadian pada Rabu 15  Nopember 2022,  sekitar pukul 19-00 Wita- 21 wita di hotel Meriya  dengan terlapor adalah, NS (29)  sementara korban adalah gadis yang di duga mengalami keterbelakangan mental beriniisal  AF (21).

Dugaan kasus pemerkosaan terjadi setar pukul 19.30 wita, terlapor NS bertemu dengan korban di parkiran mobil. Kemudian sekitar pukul 19.35 wita  terlapor menuju kamar tidurnya dan setelah masuk,  terlapor menyuruh  keluar teman sekamarnya atas nama SN. Setelah itu temannya lalu bergegas menuju ke tempat makan dan minum kopi dan teman terlapor lainnya atas nama EN sudah berada di tempat makan dan minum kopi.

Selanjutnya kata Kapolres, pada pukul 19.36 wita korban diantar oleh EB (karyawan hotel) ke kamar  terlapor. Setelah masuk di dalam kamar mulai dari pukul 19.30 wita hingga 20.00 wita. Selama dalam kamar tersebut terlapor NS melakukan hubungan badan dengan korban AF sebanyak satu kali.

Sekitar pukul 19.57 wita keluarga korban berkumpul di depan hotel untuk mencari korban AF  dan saat itu oleh keluarganya menemnukan korban AF pada pukul 20.02 wita dimana saat itu korban diantar oleh EB.

Dari hasil pemeriksaan, EB mengungkapkan dirinya tidak mengenal korban AF dan baru pertama kali beertemu saat itu, polisi juga mengungkpakan pihak hotel juga tidak pernah memesan memesan air gallon.  EB juga mengakui bahawa terlapor NS tidak pernah memesan perempuan kepada dirinya. EB sempat melihat terlapor dan korban berbincang di samping hotel tepatnya di sekitar toilet out door.

Dikatakan, pada pukul 19.35  wita terlaporn NS meminta tolong kepada EB agar mengantarkan korban AF ke kamarnya  di kamar  208. Atas permintaan itu selanjutnya  EB mengantarkan AF ke kamar NS.

EB megakui tidak mengethaui maksud dan  tujuan NS untuk mengantar AF ke kamarnya.  Saat itu korban AF langsung masuk ke dalam kamar tanpa adanya paksaan.  korban AF berada  dalam kamar selama sekitar 30 menit dan pada saat itu EB juga sempat melihat NS menyerahkan uang sebesar Rp 200 ribu kepada AF.

Selama di dalam kamar saksi EB mengakui tidak pernah mendengar teriakan meminta tolong. Saksi  EB juga mengakui tidak pernah menerima uang sepeser pun baik dari terlapor NS maupun perempuan AF.

Polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah sakis di antaranya perempuan MN (tante korban)  sebagai pelaopr.

Dalam keterangannya MN mengungkapkan bahwa sekitar pukul 19.00 wita keponakannya (korban AF)  tidak berada dalam kamarnya. Hal ini kemudian disampaikan  kepada saudaranya untuk  mencari ponakannya. Tersebut. Pada pukul 20.30 wita saksi mendapat informasi dari saudara H  bahwa ia melihat korban AF saat itu sedang berada di hotel sedang duduk-duduk bersama temannya. Kemudian saksi menuju hotel dan bertemu MS, tak lama berselang saksi kemudian menemukan korban  AF dan membujuk ponaknnya itu untuk menjelskan jika saat itu ia telah disetubuhi oleh salah seorang laki-laki yang berbaju hitam di dalam kamar mandi .

Polisi juga telah memeriksa korban AF. Dalam keterangannya  AF mengatakan ia  disuruh mandi oleh NS.  korban AF juga mengaku telah menerima uang sejumlah Rp 200 ribu dari NS sesuai hasil kesepakatan.

Dalam pengusutan laporan  kasus ini, polisi juga telah mengamangamankan barang bukti berupa 2 lembar uaang kertas pecahan 100 ribu, satu lembar seprei yang terdapat bercak merah., satu lembar bed cover terdapat bercak merah, enam lembar kertas tisu yang terdapat bercak merah.

“ Kami juga  juga telah membuat surat permintaan visum  dan  mengantarkan korban ke rumah Primaya Sorowako . kemudian  kami telah  mengamankan hasil rekaman CCTV  hotel,” kata Kapolres.

Adapun modus sebelum kejadian itu, diawali  transaksi antara korban AF dan terlapor NS dimana saat itu perempuan AF memsang tariff sebesar Rp 300 ribu.

Namun dari harga tersebut ditawar oleh terlapor NS sebesar Rp 200 ribu, AF pun menyepakati harga yang ditawarkan NS tersebut.Uang diserahkan oleh NS kepada AF usai keduanya melakukan  hubungan badan.

Kapolres juga  mengungkapkan kendala penyelidikan yang dilakukan pihaknya,  karena  belum mengambil  keterangan yang intensif terhadap perempuan AF. “ kami masih  memerlukan pendalaman lagi dimana harus dilkukan pemeriksaan visum  et refertum psiaktrium bersama juga kita akan meminta dari UPTD kabupaten untuk diberikan pendampingan  personal kepada perempuan AF,” sambung Kapolres.

Ketika ditanya apakah laporan keluarga korban bahwa telah terjadi rudapaksa atau pemerkosaan kapolres Silvester menjawab bahwa  laporan tersebut  belum  bisa dikategorikan terjadi rudapaksa atau pemerkosaan  “ karena kami masih membutuhkan keterangan–keterangan lain dari ahli, termasuk memastikan terduga korban  apakah  memang memiliki kekurangan, berkebutuhan khusus atau keterbelakangan mental”Pungkas Kapolres.(DIN)