Lutim, Airnya Digunakan Sebagai Pembangkit Listrik Tambang Nikel, Masyarakatnya Krisis Air Bersih

Daerah, Sorot206 views

Penalutim.com, Luwu Timur – Kabupaten yang terkenal dengan tiga Pembangkit Listrik Tenaga air (PLTA) ini kini mengalami krisis air bersih. Hal ini terjadi sejak Kemarau panjang.

Padahal, di Luwu Timur ini dikenal memiliki tiga Danau besar (Danau Matano, Danau Towuti, Danau Mahalona), sejumlah sungai dan sumber mata air melimpah. Memiliki 2 tambang Nikel terbesar yakni PT Vale dan PT CLM serta sejumlah Perusahaan Nasional ternyata tidak mampu mengatasi krisis air bersih yang dialami Kabupaten Luwu Timur, khususnya di Wilayah terdampak tambang Nikel.

Dua Minggu berlalu masyarakat di Wilayah terdampak tambang khususnya di wilayah tiga pembangkit Listrik Tenaga Air milik PT Vale. Yakni kecamatan Malili dan Wasuponda keluhkam dampak krisis air bersih. Dibalik kesengsaraan masyarakat yang mengalami krisis air bersih. Adapula yang mengambil keuntungan dengan menjadikan peluang bisnis menjual air. Karena air suda menjadi kebutuhan pokok mau tidak mau masyarakat yang membutuhkannya harus membeli.

“Bersyukur ki pak, masih ada yang jual. Kalau tidak ada yang jual bagaiamana mi kami ini. Kami mengalami krisis air bersih ini suda dua Minggu. Kami beli air pertandon ukuran kecil itu harganya 50.000,” ungkap salah satu warga Desa Balambano, Kecamatan Wasuponda saat berbincang di depan Masjid Babul Jannah Balambano, Jumat (13/10/2023).

Kami, berharap lanjutnya, pemerintah setempat segera melakukan tindakan penanganan krisis air bersih yang kami alami saat ini.

Terpisah dalam media sosial seorang emmak-emmak juga menyampaikan permohonan bantuan air bersih agar dapat pembagian air bersih.

“Kasih orang Togo, Desa Balambano, Kecamatan Wasuponda air kasian klo ada pembagian air” kata emmak-emmak warga Desa Balambano dalam komentar di akun Facebook Risal Mujur, Jumat (13/10/2023).

Menurut Risal Mujur, dirinya mengaku banyak membaca postingan masyarakat keluhkam krisis air bersih di wilayah terdampak tambang. Ia mempertanyakan pemanfaatan pajak Water Levy PT Vale dan penerapan Perda TJSL.

“Lalu kemana pemanfaatan pajak Water Levy PT Vale? Lalu bagaimana pula penerapan perda Pemkab Luwu Timur Nomor 2 Tahun 2019 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan?,”tanya Mujur.

Risal Mujur mengatakan krisis Air Bersih yang melanda Kabuapten Luwu Timur ini sebenarnya sangat memprihatinkan. Sebab, lanjut Mujur, Luwu Timur memiliki Danau besar dan airnya tidak habis-habis. kecuali tiga danau ini kering. mungkin  Rasional jika Luwu Timur mengalami krisis air bersih. Selain itu, tambah Mujur, di Wilayah terdampak tambang ini juga masih banyak Mata Air yang masih menghasilkan air hingga saat ini airnya masih lancar mengalir. Hanya saja, mungkin tidak ada yang menyangka pada faktanya daerah kita ini mengalami seoalah-olah krisis air bersih. Sehingga tidak ada yang upaya untuk antisipasi penanganan krisis Air Bersih.

“Bagi saya, krisis air bersih yang melanda daerah kita tercinta ini pemerintah dan para pihak yang punya tanggung jawab sosial mestinya kolaborasi mengambil tindakan ekstra.

“Masyarakat Kecamatan Malili dan masyarakat Kecamatan Wasuponda yang nampak banyak keluhkan krisis air bersih di media sosial,” tandas Risal Mujur

Risal Mujur berharap agar krisis air bersih ini segera ditindaki. Kalau perlu menjadi program prioritas dilaksanakan. (RI)