by

Pekerjaan Jalan Lintas Provinsi di Desa Nuha, Masyarakat : Parah, Diduga Pungli dan Tidak Memberdayakan Masyarakat

Penalutim.com, Luwu Timur – Pekerjaan jalan lintas Provinsi yang berada di Desa Nuha, Kec. Nuha yang dikerjakan oleh PT. Putra Jaya menuai kritik dari masyarakat setempat. Masyarakat menilai banyaknya permasalahan yang ditimbulkan oleh pihak Perusahaan, mulai dari tidak adanya pemberdayaan tenaga kerja lokal, munculnya kerusakan jalan dibeberapa ttitik yang menyebabkan sulitnya kendaraan untuk melintas, adanya isu pungli, dan pembayaran material warga yang digunakan oleh pihak perusahaan.

Bahar, salah satu warga yang mengaku sebagai pemilik lahan, saat dikonfirmasi oleh Penalutim.com, merasa dirugikan oleh pihak perusahaan karena perusahaan tersebut, mengambil material yang berada di lahannya namun pihak perusahaan tidak memberikan sepeserpun kepadanya, Selasa (10/08/2021).

“Iya, masa dia (pihak perusahaan) mengambil material di tanah ku, baru tidak ada na bayar ka. Padahal itu lahan saya yang buka sejak 2019 lalu,” ucapnya.

“Memang saya tidak punya sertifikatnya, tapi sejak 2019 saya sudah menggarap lahan tersebut. Sudah banyak biaya yang saya keluarkan untuk menggarap lahan itu, namun ketika perusahaan ini masuk, seenaknya saja mengambil material dari lahan yang sudah lama saya garap tanpa memberikan biaya ganti rugi,” sambungnya.

Selain itu, Ahyar, masyarakat setempat, menyebutkan kalau aktivitas perusahaan tersebut menyebabkan kerusakan parah dibeberapa titik dan menduga adanya praktik pungli yang dilakukan pihak perusahaan.

Pekerjaan Jalan Lintas Provinsi di Desa Nuha, Masyarakat Parah, Ada Pungli dan Tidak Memberdayakaan Masyarakat

“Rusak parah itu jalan di perbatasan gara-gara aktivitasnya itu perusahaan. Pernah ji juga ada perusahaan yang kerja jalan disini, tapi tidak separah ini kerusakan jalan yang dia timbulkan. Bahkan parahnya lagi, informasi dari supir yang melintas, ada oknum perusahaan yang memanfaatkan situasi. Jadi kalau ada kendaraan yang terjebak di jalan rusak, mereka bantu tapi tidak gratis. Informasi dari supir, disuruh bayar 200 ribu per mobil,” jelasnya.

“Maunya itu, kalau mu lihat mi itu jalanan rusak, perbaiki mi, apalagi ada ji alat mu. Jangan tunggu sampai rusak parah, baru mau diperbaiki. Kasian, banyak supir yang mengeluh akibat kerusakan jalan ini, jangankan supir mobil, ojek motor pun juga,” harapnya.

Saat dikonfirmasi terpisah (via telfon), Jupe, Keuangan perusahaan tersebut mengklarifikasi terkait permasalahan yang ditemukan masyarakat setempat di lapangan, Rabu (11/08/2021)

“Mengenai jalan rusak itu memang betul pak, tapi kami selalu memperbaiki jalan tersebut disaat panas matahari. Kalau kondisi sering hujan, sulit kami melakukan perbaikan jalan. Sejauh ini kalau cuaca bagus, kami fokus ke perbaikan jalan karena ini memang jalan umum dan banyak masyarakat yang menggunakannya,” jawabnya.

“Mengenai pungli, saya sudah konfirmasi ke anggota yang di lapangan, mereka mengatakan kami sama sekali tidak melakukan pungli. Adapun kalau kami membantu pengendara yang melintas, mereka sendiri yang memberikan uang, ada juga minuman dan makan kepada kami sebagai ucapan terimakasih,” jelasnya.

Lebih lanjut, Jupe, permasalahan pemberdayaan tenaga kerja lokal kami sudah lakukan dan sudah ada beberapa masyarakat yang kami pekerjakan pada proyek pengaspalan. Bahkan kalau masing ada masyarakat yang mau bekerja dengan kami, silahkan datang ke kantor, kami siap melayani.

Saat ini, beberapa material kami ambil dari masyarakat setempat dan itupun tetap ada biaya yang perusahaan keluarkan untuk itu.

“Untuk material, ada yang kami datangkan dari Morowali dan ada yang dari sini. Untuk material yang kami ambil disini, itu kami berikan ke yang punya lahan 10ribu per retnya. Tapi untuk lahan yang tidak ada pemiliknya, kami dari pihak perusahaan berinisiatif untuk memberikan ke Desa sebagai PAD desa setempat,” tutupnya.

Penulis : Hafid
Editor : Redaksi
Foto : Warga

News Feed