by

Raih Disertasi PhD Terbaik dari Universitas Belanda, Isti Hidayati Ceritakan Kisahnya

Penalutim.com, Jakarta – Salah satu program pada acara Summer Ceremony yang digelar Kamis, 1 July 2021 oleh Universitas Groningen adalah pemberian penghargaan  disertasi terbaik tahun 2020 kepada Isti Hidayati asal Indonesia. Disertasi yang berjudul ‘Understanding mobility inequality: A socio-spatial approach to analyse transport and land use in Southeast Asian metropolitan cities’ ini membuatnya mendapatkan hadiah sebesar € 7.500.

Setiap tahunnya, lebih dari 1.000 mahasiswa internasional lulus dari Universitas Groningen. Oleh karena itu Upacara Musim Panas diselenggarakan sebagai acara perpisahan kepada semua siswa internasional yang lulus. Tujuan dari penyelenggaraan acara ini untuk memberikan transisi yang mulus dari ‘mahasiswa internasional’ menjadi alumni internasional.

Pada acara ini selain diperkenalkan Duta Alumni Internasional juga disorot mengenai pentingnya menjadi alumni, dan mendorong alumni internasional untuk tetap berhubungan dengan almamater. Beberapa alumni berprestasi juga akan mendapatkan penghargaan pada acara ini. Salah satunya Isti Hidayati yang akan menerima Wierenga-Rengerink Prize pada acara yang diadakan pada 1 Juli 2021 pukul 15.45 (waktu Belanda) / 20.45 (Waktu Indonesia Barat) dan disiarkan secara lansung melalui kanal YouTube University of Groningen.

Wierenga-Rengerink Prize mulai diberikan sejak tahun 2015 kepada mahasiswa PhD yang menurut juri telah menulis disertasi terbaik versi University of Groningen, Belanda.  Setiap fakultas menominasikan satu calon, memilih dari disertasi yang telah diberikan penghargaan cum laude oleh fakultas tersebut dan melalui proses seleksi ini, juri yang terdiri dari rektor dan mantan rektor University of Groningen, memilih pemenang akhir.

Keluarga Wierenga-Rengerink menyediakan hadiah berupa uang tunai melalui Ubbo Emmius Fund. Hadiah ini dapat digunakan untuk pengembangan pendidikan lanjutan. Sebelumnya, penghargaan diberikan kepada Namkje Koudenburg (2014), Hanna van Loo (2015), Nigel Hamilton dan Jordi van Gestel (2016), Alain Dekker (2017), Michael Lerch (2018) dan Arpi Karapetian (2019).

Terinspirasi dari keprihatinan melihat kondisi transportasi

Sejak kuliah S1 di Universitas Gadjah Mada, dan juga saat kuliah S2 di Universität Stuttgart, Jerman, Isti sudah tertarik pada isu transportasi dan kesetaraan. Isti prihatin melihat kondisi transportasi di Indonesia yang semakin bergantung pada kendaraan pribadi, apalagi di Jogja.

“Saya bandingkan ketika saya masih sekolah, saya banyak menggunakan transportasi umum. Saat ini, banyak siswa yang memilih diantar menggunakan kendaraan pribadi, menggunakan ojek online, fasilitas antar-jemput, atau membawa kendaraan sendiri. Padahal, saya merasa pengalaman naik angkutan umum itu menarik, bisa bertemu banyak orang dan melihat aktivitas orang lain. Kalau lagi suntuk, ketemu simbah-simbah yang selesai jualan di angkot dan cerita gimana hasil jualan hari ini, itu bisa bikin saya senang. Di sisi lain, saya juga pernah mengalami racism ketika saya travelling di luar negeri (karena saya pakai kerudung), yang saya pikir tidak adil. Saya bayangkan ada banyak orang yang juga mengalami racism dan pengalaman tersebut dapat menghalangi mereka bepergian. Di sini saya tertarik untuk lebih mendalami tentang pengalaman ketika melakukan perjalanan dan bahwa masing-masing individu tentunya punya pengalaman yang berbeda-beda,” cerita Isti.

Pada bulan Desember 2020, Isti menyelesaikan sidang disertasi dengan predikat cum laude. Ia menulis disertasinya di bawah bimbingan promotor Prof. Claudia Yamu dan Prof. Ronald Holzacker serta supervisor Dr. Wendy Tan.

Isti berhasil mendapatkan gelar PhD dengan masa studi yang terhitung relatif cepat (1 Februari 2017 – 10 Desember 2020). Menurut Isti, ini dikarenakan supervisor dan promotor bisa bekerja secara paralel. “Jadi, semisal saya bekerja dengan Wendy di paper A, pada saat yang sama saya juga menulis paper B dengan Claudia, sehingga kami bisa publish paper secara efisien, tidak menunggu paper A selesai baru lanjut ke paper B,” ungkapnya.

Dalam disertasinya, Isti menawarkan wawasan spasial sosial tentang ketimpangan mobilitas melalui studi kasus empiris di Jakarta dan Kuala Lumpur, sebagai contoh tipikal kota-kota besar di Asia Tenggara. Kesimpulan yang ditarik adalah bahwa perbedaan kemampuan dalam melakukan mobilitas (mobility inequality) memberi pengaruh negatif bagi masyarakat marginal (umumnya perempuan, masyarakat berpenghasilan rendah, mereka dengan disabilitas) dan perbedaan kemampuan tersebut dipengaruhi oleh ruang terbangun, misalnya konfigurasi jalan, fungsi dan bentuk bangunan, dan praktik sosial, misalnya ketergantungan pada kendaraan pribadi.

“Sukanya saat melakukan penelitian ini adalah bertemu banyak orang yang membantu dan memiliki interest yang sama dengan saya, bisa belajar hal baru, misal jadi tahu gang-gang kecil di Jakarta dan Kuala Lumpur, tahu tempat jajanan enak, dan dapat pengalaman travelling. Dukanya tentu saja stres ketika mengumpulkan data, misalnya data lupa tidak di-save, seharian tidak dapat responden, sudah jalan seharian tapi ternyata tidak terekam, dan pressure ketika menulis, misanya seharian stuck, dapat kritikan pedas dari reviewer yang kadang bikin down,” ujar Isti saat ditanya mengenai suka dukanya dalam mencapai prestasi ini.

Isti juga menambahkan bahwa dukungan dari supervisor dan dari teman-teman Universitas Groningen dan juga dari perkumpulan pelajar Indonesia, serta keprofesionalitasan LPDP yang tidak pernah telat memberi uang beasiswa, ikut membantunya mengurangi stress, sehingga bisa mencapai prestasi ini.

Dalam siaran persnya, Direktur Nuffic Neso Indonesia, Peter van Tuijl, mengucapkan selamat atas prestasi yang diraih oleh Isti Hidayati.  Dan Peter berharap semoga prestasi anak bangsa ini bisa menambah motivasi para pelajar Indonesia lainnya dalam bersaing di kancah internasional.

 

Penulis : Redaksi

Editor : Ning Rahayu

Foto : Redaksi

News Feed