by

HIPMI & Kemenkop UKM Canangkan Gerakan Inovasi dan Transformasi Digital Koperasi

Penalutim.com, Jakarta – Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki mengatakan, salah satu kunci produktivitas dan pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) adalah dengan berinovasi. Sehingga penting mengetahui potensi yang dimiliki, untuk mendorong penciptaan inovasi yang tepat bagi perkembangan UMKM, terutama di masa pandemi saat ini.

“Saat ini kita perlu menjadikan momentum untuk modernisasi koperasi, momentum untuk mensejajarkan koperasi dengan badan usaha lainnya, dan momentum untuk menjadikan koperasi sebagai pilihan rasional untuk kesejahteraan masyarakat. Melalui momentum ini, kita harus memiliki optimisme yang tinggi sebagai instrumen dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, serta dapat terlayani dan meningkatkan citra koperasi, karena koperasi dianggap masih jadul, tidak modern, dan pelayanannya buruk, Ini momentum untuk koperasi bisa tampil dan lebih hebat daripada korporasi,” ujar Teten, dalam acara Webinar “Pencanangan Gerakan Inovasi dan Transformasi Digital Koperasi” (19/11/2020).

Menurutnya, UMKM yang mampu bertahan adalah UMKM yang mampu beradaptasi dan berinovasi dalam mengembangkan produk atau jasanya, serta UMKM yang terhubung dengan ekosistem digital. Pemerintah berupaya memastikan berjalannya roda ekonomi dan aktivitas usaha pelaku UMKM, dengan menghubungkan ke ekosistem digital serta beradaptasi dengan tren pasar dan inovasi proses bisnis.

“UMKM digital produktif merupakan kunci pemulihan ekonomi. Tercatat setidaknya sejak pandemi terjadi, penjualan di e-commerce naik 26 persen dan mencapai 3,1 juta transaksi per hari. Namun demikian angka awal 2020 pemerintah mendata baru 8 juta UMKM hadir dalam platform digital atau 13 persen dari total populasi UMKM,” ucapnya.

Teten mengakui, berbagai upaya pemerintah menggenjot transformasi digital UMKM memang telah membuahkan hasil, yaitu melalui Gerakan Bangga Buatan Indonesia, dimana seluruh elemen pemerintah bersinergi menghadirkan pelaku UMKM dalam ekosistem digital. Menurutnya, saat ini ada 10.255.711 pelaku atau 16 persen telah memanfaatkan platform digital.

“Angka ini telah melampaui target yang ditetapkan Pak Presiden Joko Widodo yaitu penambahan 2 juta pelaku usaha di 2020,” ungkapnya.

Bahkan, kata Teten, kini ada banyak perusahaan startup teknologi digital, yang secara jeli memetakan permasalahan dan kendala yang dialami UMKM dan mensolusikannya dengan sederhana melalui pemanfaatan teknologi digital. Ia mengatakan, koperasi yang masuk dalam ekosistem digital masih sangat rendah, baru sekitar 906 koperasi atau 0,73 persen dari 123 ribu koperasi aktif.

“Oleh karena itu, transformasi digital koperasi harus dipercepat sehingga dapat bersaing dengan badan usaha lainnya,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Bagas Adhadirgha mengatakan, sekitar 90 persen merupakan pelaku UMKM. Untuk itu, pihaknya juga meminta bermitra secara strategis kepada Kementerian Koperasi dan UKM agar pelaku usaha UMKM bisa melakukan percepatan transformasi dari offline menjadi online.

“Pada awal tahun cukup dikagetkan dengan pandemi Covid-19 dan HIPMI adalah salah satu organisasi yang mayoritas terkena dampaknya. Dengan adanya pandemi Covid-19, dibatasi ruang gerak, proses ekonomi yang dilakukan sehari-hari cukup terdampak. Akibatnya, pada awal Maret terpaksa perusahaan melakukan PHK yang cukup banyak dan aktivitas usahanya ditutup,” ujar Bagas.

Dengan adanya pandemi Covid-19, Ia berharap, ke depannya HIPMI dapat bersinergi dengan Kemenkop dan UKM akan terus berjalan dengan optimal. Menurutnya, keberadaan HIPMI selama ini selalu beriringan dengan program Kemenkop dan UKM.

“Kami melakukan transformasi sebagai asosiasi pengusaha muda untuk mempercepat formulasi dari offline menjadi online. Teknologi informasi sangat membantu sekali untuk UMKM dengan menggunakan e-commerce, yang biasanya kita buka store, kini sudah tidak perlu lagi dan itu penting bagi industri UMKM di era digital,” ucapnya.

Bagas juga menyoroti, kondisi pelaku industri saat ini masih menanti gejolak yang ada. Mulai dari pelambatan ekonomi hingga pandemi Covid-19 yang sedikit banyak mempengaruhi dunia usaha. Pandemi yang merubah tatanan sosial ekonomi dunia adanya pembatasan ruang gerak, kesehatan faktor utama, ekonomi mengikuti, dan diperlukan sebuah win-win solution untuk mengatasi permasalahan kesehatan serta ekonomi bersamaan.

“Dengan demikian, diperlukan adaptasi kebiasaan baru seperti solusi menjalankan protokol kesehatan dan ekonomi di masa pandemi; jaga jarak, jaga kebersihan, penggunaan masker merupakan kebiasaan baru yang harus diadopsi bagi para pelaku ekonomi di era “Adaptasi Kebiasaan Baru”; bisnis model berubah dalam waktu yang sangat singkat, pengusaha dituntut untuk menyesuaikan dengan cepat, dan yang tidak mampu beradaptasi tersingkir. Harapannya, mampu menyalurkan pembiayaan koperasi dan UMKM-UMKM,” ungkapnya.

 

Penulis : Ning Rahayu

Editor : Redaksi

Foto : Ning Rahayu

News Feed