by

Djuni Thamrin : Isu PKI Tanda Politisi Kehilangan Kreatifitas Politik

Penalutim.com, Luwu Timur – Memframming isu kebangkitan PKI menandakan hilangnya kreatifitas politisi hari ini, isu musiman yang hanya dijadikan jualan politik dan berupaya dilakukan sebagai serangan menyerang kelompok tertentu.

Seperti yang disampaikan oleh pengamat kebijakan publik, Djuni Thamrin, yang mengatakan bahwa isu PKI telah kehilangan relevansi dan kehilangan makna. Sangat tidak relevan dijadikan sebagai diskursus untuk langkah ke depan.

“Kalau kita misalnya mendaur ulang isu ini nampaknya hasilnya tidak terlalu signifikan. Dan tidak berbekas di generasi sekarang. Tokoh yang paling senior dan mengetahui persis ya mungkin saat peristiwa itu terjadi mungkin dia dulu masih kecil,” kata Djuni Thamrin dalam webinar “Dihantui Kebangkita PKI; Antara Peluang dan Daur Ulang,” yang digelar oleh LSPI, Rabu (30/09/2020).

Djuni Thamrin pun berupaya menegaskan bahwa generasi millenial tidak penting membicarakan isu ini karena hanya akan menimbulkan perdebatan yang tidak ada hasilnya. Dosen Universitas Jayabaya ini berharap agar diskursus tentang Bonus Demografi lebih diperdalam untuk menatap masa depan bangsa.

“Jangan sampai terjebak dalam cara lama sehingga kita terjebak karena hanya untuk kepentingan politik saja,” pungkas pengamat kebijakan publik ini.

Senada diatas, tokoh GP Ansor, Mohammad Nuruzzaman, mengatakan bahwa peristiwa 30SPKI hanya dijadikan sebagai framming untuk menyerang kekuasaan, seolah-olah PKI itu masih ada dan banyak orang muslim selalu dituduh bagian dari PKI.

“Kita bisa lihat hari ini banyak kejadian yang di upayakan di framing agar terlihat seolah PKI itu benar masih ada,” kata Mohammad Nuruzzaman, pada kegiatan webinar “Dihantui Kebangkita PKI; Antara Peluang dan Daur Ulang,” Rabu (30/09).

Nuruzzaman mengungkapkan sebenarnya idologi ini sudah tidak ada, kemudian di cina secara ekonomi kapitalis, kebijakan Jokowi arahnya demokrasi liberal, dan keluar dari pendiri bangsa kita.

Jadi, terang Nuruzzaman, tidak ada bukti bahwa komunis ini muncul. Sebagai ideologi mungkin ada tetapi sebagai gerakan politik dia menyakini itu tidak ada.

“Generasi terbesar saya ini adalah milenial dan mereka sudah tidak mengetahui sejarah PKI, jadi betul sekali isu ini sengaja di lahiran untuk kepentingan politik untuk mengambil simpati umat Islam, dan yang di pakai sebagai isu agama,” pungkasnya.

Lanjutnya, sudah saatnya kita membangun negri ini tanpa harus mengulanginya lagi, banyak politisi kita yang pragmatis untuk menggunakan isu tertentu untuk menyebarkan kebencian.

Sependapat dengan diatas pengamat politik, Ray Rangkuti, ungkapkan bahwa isu ini menjadi isu musiman. Momentum ini dijadikan sebagai bagian dari serangan isu politik setiap tahunnya yang menguntungkan para politisi.

“Bukan hanya di setiap tahun saja tetapi ini akan terus digunakan dan diuntungkan oleh para politisi. Isu ini juga merupakan isu yang sangat murah dan tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk memainkan isu ini,” kata Ray, Rabu (30/09).

Menurut Direktur Lingkar Madani ini, isu bangkitnya PKI sebenarnya hanya lebih kepada jualan politik. Bahkan, lanjutnya, diskusi pancasila pun dikaitkan dengan kebangkita PKI. Yang justru, kata Ray, isu ini hanya semata-mata untuk mengumpulkan orang dimanfaatkan dalam kegiatan politik tertentu.

 

Penulis : Amir Wata

Editor : Redaksi

Foto : Amir Wata

News Feed