by

Anak Suku dan Wija To Luwu, Kemas Silaturahmi Bahas Tatanan Adat Kedatuan Luwu

Penalutim.com, Luwu Timur – Bersama Anak Suku dan Wija To Luwu, Pilar Adat Kadatuan Luwu menggelar silaturrahmi di Gedung Serbaguna Sorowako, Jalan Mongisiding, Kelurahan Magani, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur. Silaturrahmi yang berlangsung mulai pukul 20.20 WITA, diprakarsai oleh Poros Tengah (Forum), Abutar Ranggo.Hasan Said. Dahlan, Sabtu malam (22/8/2020).

Hadir dalam acara tersebut yakni, Dewan Adat Kedatuan Luwu, Abidin Arif Dg. Parukka, (Pancai Pao), Sumardi Noppo To Mecce Pua Amula (Pua Oragi Datu), mewakili Macoa Bawalipu Wotu Atonna Luwu. Andi Baso Opu Bau (Wija Kedatuan Kamanre), Andi Baso Ilyas (Wija To Manurung Palopo), kemudian ada Maming Tomakka (Ba’tang), AKBP (purn.) Pandu Tangdirerung (Tokoh Adat Luwu), Herman Mangentang (To Matua Rante Balla) dari Bastem, ada juga Andi Jinar Opu Lolo, Andi Mantangkilan Opu To Mamessange.

Selain itu hadir pula Tokoh Pemuka Adat 3 Wilayah, beserta masyarakat adat lokal yang ada di Luwu timur. Dalam acara silaturrahmi ini, dilakukan pemaparan dan tatanan adat bersama Anak Suku dan Wija to Luwu.

Adapun tujuan utama dari silaturahmi di atas, untuk menghimbau masyarakat, agar tidak terpengaruh oleh dualisme kepemimpinan Kedatuan, sebab mereka pada hierarkinya masih tetap satu yakni Kedatuan Luwu.

“Belajarlah dari persatuan suku adat yang ada di sekitar kita bukan membentuk kelompok tersendiri yang pastinya akan melahirkan kepentingan golongan atau kelompok tertentu, hingga kepentingan pribadi,” jelas Abidin Arif Dg. Parukka.

Ditambahkan suku adat bukanlah kendaraan dan alat politik pergerakan massa.”Kita harus mampu beradaptasi dengan masyarakat sekitar, agar tercipta suasana kondusif dan kerjasama yang baik. Bahwa Kemakolean adalah perpanjangan tangan Kedatuan yang memiliki sifat otonomi terbatas, atas asas kepentingan masyarakat suku adat lokal dalam wilayah Kemakolean,” tegas Abidin.

Diungkapkannya, Pilar Adat Kedatuan Luwu tidak mengenal adanya 2 Kemakolean (Kemakolean Nuha), sesuai Tatanan Adat Kedatuan Luwu. Keberadaan Kemakolean Nuha adalah pembodohan dan trik yang dilakukan di era penjajahan Belanda, untuk memecah belah persatuan dan kesatuan yang tentunya saat ini bisa saja bermuatan politik dan kepentingan kelompok atau oknum tertentu.

Pilar Adat Kedatuan Luwu menegaskan pentingnya persatuan anak suku lokal dan tidak terpecah oleh kepentingan tertentu, serta jangan mudah terpengaruh oleh kabar dan issue dualisme Kedatuan, hingga melahirkan dua Kemakolean yang dikenal selama ini.

Ditegaskan Pilar Adat Kedatuan Luwu hanya mengakui satu Kemakolean, yakni Kemakolean Matano, sesuai Tatanan Adat Kedatuan Luwu.

 

Penulis : Lisa Jhon

Editor : Ajeng

Foto : Lisa Jhon

News Feed