by

Kolaborasi Melalui Inovasi Digital adalah Kunci Perkuat Ekonomi

Penalutim.co.id, Semarang – Indonesia menjadi salah satu negara yang diproyeksikan menjadi perekonomian terbesar ke 5 di dunia pada tahun 2045, dengan berbagai faktor pendukung seperti bonus demografi, baik angkatan kerja maupun meningkatnya jumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

UMKM yang merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, kini jumlahnya telah mencapai lebih dari 60 juta usaha. Sebagai negara pengguna internet terbesar, ekonomi digital menjadi kunci untuk dapat mentransformasikan potensi tersebut menjadi faktor keunggulan bangsa.

Hal ini diungkapkan Deputi Komisioner OJK Institute Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sukarela Batunanggar dalam acara Sosialisasi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.13/POJK.02/2018 tentang Inovasi Keuangan Digital di Sektor Jasa Keuangan, yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Crowne Hotel Semarang 27 – 28 November 2018.

Peraturan yang baru diterbitkan pada awal September 2018 ini diharapkan menjadi ketentuan industri financial technology (fintech), tanpa menghambat tumbuhnya inovasi-inovasi baru yang tumbuh dari industri tersebut.

Dalam paparannya, Sukarela menambahkan pentingnya pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam mengoptimalkan keberadaan teknologi tersebut melalui bisnis model inovatif dan kreatif.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita bersama-sama para pemangku kepentingan sektor keuangan dapat memberdayakan masyarakat, sehingga tercapai dua objektif. Pertama akses pembiayaan jadi lebih terjangkau bagi para UMKM, Kedua yaitu edukasi dari sisi kapasitas masyarakat. Dalam konteks ekonomi daerah, sinergi dan kolaborasi dari berbagai para pemangku kepentingan di berbagai daerah, sangat diperlukan.” tambah Sukarela.

Dalam sosialisasi ini, hadir pula perwakilan Bank Indonesia, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan pemain swasta di Provinsi Jawa Tengah baik industri keuangan konvensional maupun fintech yang tergabung dalam Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) dan perusahaan teknologi lainnya seperti Google Indonesia dan GO-JEK Indonesia.

Selain mengikuti sosialisasi regulasi OJK terbaru, berbagai perusahaan teknologi ini diundang untuk berbagi mengenai Ekonomi Digital dalam rangkaian Seminar yang berjudul “Penguatan Karakter Ekonomi Daerah Melalui Inovasi”.

Sementara itu, pada sesi seminar dengan tema ‘Kolaborasi Ekonomi Digital’, Astrid Kusumawardhani – VP Public Affairs GO-JEK dalam paparannya menyebutkan “GO-JEK percaya bahwa pemanfaatan teknologi merupakan cara yang paling tepat untuk memecahkan masalah ketimpangan ekonomi. Di sini kami gunakan teknologi untuk menyetarakan kesempatan berusaha karena hal inilah yang sangat dibutuhkan oleh UMKM untuk mereka naik kelas.”

Dengan semangat awal bahwa inovasi digital adalah langkah untuk mengembangkan ekosistem ekonomi kerakyatan, kini GO-JEK telah berhasil menghubungkan pengguna dengan lebih dari 1 juta mitra pengemudi, lebih dari 400 ribu merchant UMKM, serta lebih dari 30 ribu penyedia layanan lainnya di 167 kota dan kabupaten di Indonesia.

“Dengan ekosistem kami, GO-JEK membantu UMKM memperluas pasarnya, membantu pencatatan keuangan dan meningkatkan inklusi keuangan, serta menekan biaya operasional dengan adanya layanan yang lebih efisien.” tambah Astrid.

Berdasarkan survey dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) tahun 2017, GO-JEK telah memberikan kontribusi sebesar Rp8,2 triliun terhadap perekonomian Indonesia yang disumbangkan melalui penghasilan mitra pengemudi dan Rp 1,7 triliun yang disumbangkan melalui penghasilan mitra UMKM. Para mitra UMKM ini pun mengalami peningkatan volume penjualan sebesar tiga kali lipat setelah mereka bergabung di GO-FOOD.

Menyadari bahwa terdapat banyaknya tantangan yang dihadapi UMKM Indonesia terutama dalam memulai bisnis dan meningkatkan skala bisnisnya, sejak tahun 2018 GO-JEK telah menginisiasi program pelatihan kewirausahaan bernama GO-JEK Wirausaha. Per November 2018, program percontohan (pilot program) ini telah dilakukan sebanyak 7 kali di 5 kota, dengan melibatkan hampir 700 UMKM.

Di setiap pelatihannya, GO-JEK juga menjalin kerjasama dengan berbagai komunitas, universitas, pemerintah di berbagai kota termasuk organisasi masyarakat Muslimat Nahdlatul Ulama yang dimana kerjasama tersebut tidak terbatas hanya pada pelatihan wirausaha yang ditujukan pada lebih dari 30 juta anggotanya, tetapi juga digitalisasi ekonomi di berbagai lingkungan Muslimat NU mulai dari koperasi, masjid, dan UMKM binaan di seluruh Indonesia.

“Dengan misi untuk memberikan dampak sosial yang semaksimal mungkin kepada masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, GO-JEK menilai kolaborasi antara pelaku usaha, akademisi, organisasi masyarakat termasuk pemerintah merupakan kunci dalam tingkatkan ekonomi kerakyatan. Melalui solusi teknologi yang ditawarkan, kami berharap dapat menciptakan lebih banyak peluang bagi masyarakat untuk bisa meningkatkan perekonomian lokal dan merasakan kemudahan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari,” jelas Astrid.

Hal ini diamini juga oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, yang diwakili oleh Asisten bidang Ekonomi Pembangunan Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Prijo Anggoro Budi Rahardjo. Dalam sambutannya, Prijo menjelaskan “Teknologi digital ini membantu. Dahulu jika ingin pesan Nasi Pecel Mbok Sador dari Simpang Lima, (harus) macet, (harus) cari parkir, sekarang kita bisa menggunakan GO-FOOD. Ekonomi kerakyatan sendiri selama dikelola dengan SDM yang bagus, tidak akan terpuruk, tidak akan pernah sepi. (Dengan teknologi) masyarakat diberi kesempatan memilih, mari kita mencari yang terbaik, mari kita sama-sama sejahterakan masyarakat, karena itu bukan tanggung jawab pemerintah semata, tetapi tanggung jawab kita semua.”

 

Penulis ; Ayu

Editor :  Risal

Comment

News Feed