by

Perempuan Milenial Yang Terbelakang

Oleh : Ning Rahayu, S.Ik ( Pimpinan Penalutim Institut)

Penalutim.co.id, Jakarta –  Ketika dihadapkan dengan pembahasan mengenai perempuan, maka daya tarik yang terbesit diseluruh benak manusia seketika menguasai alam fikirnya. Maka tidak heran ketika menjumpai forum-forum diskusi begitu ramai dikerumuni, jika pembahasan utamanya ialah perempuan.

 

Memang tidak ada yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Ketiadaan perbedaan tersebut ialah jika kita menerawangnya dari sisi kemanusiaan. Sebagaimana Allah SWT. telah menunjuk manusia sebagai khalifah dimuka bumi, tanpa menyebut manusia berkelamin perempuan ataupun manusia berkelamin laki-laki.

Begitu pula dengan yang kita ketahui, bahwa ketika julukan khalifah telah disandingkan, maka sudah barang tentu penyandang julukkan menempati kedudukan yang termuliakan. Namun yang paling menarik ialah ketika benang merah dalam pembahasan mengenai perempuan ditarik dari garis hakikat perempuan itu sendiri, yang jika kita memahami dan menyadari, maka tidak akan mungkin dapat ternaifkan.

Kendati demikian, membahas makhluk sentimentil rasanya tidak cukup hanya dengan hitungan menit. Akan tetapi butuh waktu panjang untuk membahas dan mengkaji perempuan yang tingkat kerumitannya cukup berarti.

Meskipun penunjukkan tuhan terhadap perempuan sebagai makhluk yang dimuliakan telah jelas terpampang dalam Al-Qur’an, namun eksploitasi perempuan kini justru semakin marak. Pelecehan dan penindasan terhadap kaum hawa nampak semakin menjadi jadi. Seolah perempuan adalah ladang bagi kaum kapitalis dalam mengeruk keuntungan dan kepuasan.

Dapat terbayangkan, betapa hebatnya budaya dan pola pikir barat menghegemoni bangsa timur yang serba minim seperti Indonesia. Minim dari hasrat bangkit untuk memerdekakan jati diri ketimuran, dan minim dari libido ketuhanan. Finalnya hanyalah terus menerus menjadikan Islam semakin keruh.

Namun fatalnya perempuan muslimah dewasa ini begitu bangga dengan posisinya sebagai boneka yang didalangi barat. Bahkan tidak sedikit perempuan yang menyadari bahwa setir gaya hidupnya ialah rangkaian tangan-tangan barat.

Namun entah karena nyaman dengan belaian menikam yang diulurkan barat kepada perempuan muslimah, atau memang karena upaya bangkit selalu kalah dengan arus zaman. Perempuan yang sejatinya lebih berharga dari berlian, dewasa ini justru mewabah perempuan yang selangkah saja tak mampu memantaskan diri untuk disebut sebagai sesuatu yang memiliki harga.

Budaya eksploitasi yang dipopulerkan barat dengan mengatasnamakan istilah emansipasi dan keseteraan gender, seketika menghipnotis para perempuan muslimah yang seolah hendak dibebaskan dan dimerdekakan.

Padahal disadari atau tidak, sebenarnya mereka tengah menjadi wayang ditangan-tangan gemulai milik barat. Istilah-istilah yang seolah memerdekakan perempuan, nampaknya telah menjadi doktrin bagi sebagian besar perempuan muslimah di Indonesia atau bahkan di dunia.

Alhasil, perempuan dewasa ini menjadi begitu liar dan jauh dari hakikatnya. Dapat dibayangkan betapa merekahnya senyum dan tawa geli para otak barat, yang sukses membentuk pola pikir perempuan timur yang terlihat sudah merdeka, padahal tidak sama sekali.

Mengertikah para perempuan-perempuan cerdas di era tekhnologi yang maha dahsyat ini, bahwa posisinya tengah di ujung tanduk keselamatan, jika eksistensi sentimentil ini ditinjau dari teropong nilai keislaman.

Sebagaimana Islam telah mengorasikan secara santun, betapa perempuan memiliki posisi yang lebih mulia, dari hanya sekedar pengibar bendera emansipasi dan kesetaraan gender. Jika memang hal tersebut dapat dipahami dan disadari oleh seluruh perempuan di muka bumi.

Begitu pula dengan hal yang dengan mudah dapat kita saksikan, bahwa berbagai bentuk penyokong kesuksesan bisnis hingga politik seolah tidak pernah lepas dari tenaga perempuan. Kaum hawa kian menjadi sesuatu yang selalu disuguhkan sebagai alat untuk mengeruk keuntungan dan keberhasilan.

Meski tenaga yang harus dikeluarkan perempuan tidaklah sampai menguras keringat. Hanya dengan sebuah senyuman atau lekukan tubuh seksi perempuan saja, rasanya sudah cukup menguntungkan para pengusaha maupun politisi. Hal ini jelas bukan sebuah kebanggaan bagi sebuah bangsa yang mayoritas penduduknya muslim.

Benar bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Akan tetapi tidak berarti perempuan bebas menginjak kepala laki-laki dalam setiap peranan, dan menggunakan landasan emansipasi ataupun kesetaraan gender yang ramai digadang dan diagungkan dengan cara yang salah dalam hal memfungsikan diri.

Jika hendak mengaku diri sebagai manusia milenial, semestinya bukan dengan menepis berbagai norma dan ketentuan syari’at yang telah tertuliskan. Namun melakukan perkembangkan diri dari syari’at atau aturan agama terdahulu hingga menjadi diri yang berkembang dengan sempurna dalam koridor syari’at.

Dewasa ini, rasanya terlalu munafik jika membenarkan emansipasi ataupun kesetaraan gender pada perempuan, namun tidak berani membenahi berbagai aspek yang berkaitan dengan hakikat perempuan, yang sebenarnya dapat melanggengkan keharmonisan kehidupan di muka bumi ini.

 

Comment

News Feed